REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa 59 negara telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam pasukan stabilisasi Gaza. Ia juga sesumbar bisa meminta berapapun pasukan asing untuk ditempatkan di Jalur Gaza.
Dalam pidatonya di Ruang Oval, presiden AS menekankan bahwa kekuatan stabilisasi internasional di Gaza sudah berfungsi, dan akan ada lebih banyak negara yang ditambahkan ke dalamnya.
“Ada lebih dari 59 negara yang ingin bergabung,” ujarnya Selasa waktu AS. “Berapapun jumlah pasukan yang saya minta akan mereka kirimkan,” ia menambahkan.
Menurutnya, bukan hanya negara-negara di Timur Tengah yang akan bergabung dengan pasukan itu. Negara-negara yang lokasinya di luar wilayah itu juga menyatakan hendak bergabung.
Trump menambahkan bahwa Washington juga akan mempertimbangkan apakah tindakan Israel membunuh pemimpin Brigade al-Qassam Raed Saad oleh Israel merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
“Kita memiliki perdamaian nyata di Timur Tengah dan kita akan melihat apa yang terjadi dengan Hamas dan Hizbullah," ujarnya. Ia menekankan bahwa Hamas mengatakan akan melucuti senjatanya. “Kita akan melihat apakah itu benar atau tidak.”
Amerika Serikat (AS) bersikeras bahwa Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza harus bertugas melucuti senjata kelompok Hamas dengan cara apapun. Sejauh ini, peran tersebut jadi hambatan bagi negara-negara yang berencana bergabung dengan ISF termasuk Indonesia.
"Pasukan stabilisasi dalam resolusi Dewan Keamanan berwenang untuk [melucuti senjata Hamas]. Kami secara khusus menyatakan, 'dengan segala cara yang diperlukan’,” ujar Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz pekan lalu.
Waltz menyatakan, peran ISF Itu akan menjadi pembicaraan dengan masing-masing negara. “Pembicaraan mengenai] aturan keterlibatan untuk ISF sedang berlangsung... Presiden Trump telah berulang kali mengatakan, Hamas akan melucuti senjatanya dengan satu atau lain cara - dengan cara yang mudah atau cara yang sulit," kata Waltz dalam sebuah wawancara dengan Channel 12 di akhir perjalanannya ke Israel minggu lalu.
Sejak resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberikan mandat internasional untuk ISF diadopsi bulan lalu, AS belum mengumumkan negara mana pun yang bergabung dengan pasukan asing. Hampir semua calon penyumbang pasukan enggan terlibat dalam bentrokan dengan Hamas untuk melucuti senjata kelompok tersebut atau membuat tentara mereka terjebak dalam baku tembak Israel-Hamas di Gaza.
Meskipun Waltz secara terbuka menyebut Azerbaijan sebagai salah satu negara yang mungkin menjadi kontributor, seorang pejabat Azerbaijan mengatakan kepada The Times of Israel pada akhir pekan bahwa Baku masih jauh dari mengambil keputusan seperti itu. Salah satu masalah yang menghambat negara-negara tersebut adalah veto Israel terhadap keterlibatan Turki dalam ISF.
Para negara calon penyumbang pasukan merasa bahwa Ankara diperlukan sebagai penjamin di lapangan. Ini mengingat hubungannya dengan Hamas dan perannya sebagai mediator dan penjamin gencatan senjata.
Waltz mengindikasikan bahwa AS masih berupaya mengubah sikap Israel mengenai masalah ini. Ia mengatakan kepada Channel 12 bahwa pembicaraan mengenai masalah ini “sedang berlangsung.”
Sejauh ini, negara-negara yang mulanya bakal menyumbang pasukan seperti Azerbaijan dan Pakistan telah menyatakan tak akan ikut serta bila tujuan ISF adalah melucuti Hamas. Meski belum memberikan pernyataan resmi, Indonesia agaknya berada pada posisi yang sama.
“Kita juga tidak mau jika harus berperang melawan Hamas,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI kepada Republika. Saat ini, diplomat-diplomat negara-negara Muslim tengah terus menggodok bentuk akhir dari pasukan yang keberadaannya sudah diloloskan Dewan Keamanan PBB tersebut.

3 weeks ago
37

















































