Trump Prediksi Perang Iran Berakhir Usai Pemilu, Harga Bensin Jadi Taruhan

8 hours ago 23

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprediksi perang dengan Iran akan berakhir segera setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026. Pernyataan itu muncul ketika konflik memasuki bulan ketujuh, harga minyak kembali menembus 100 dolar AS per barel, dan mahalnya bahan bakar semakin menjadi persoalan politik bagi Partai Republik menjelang pemungutan suara.

Trump menuding Teheran sengaja mempertahankan perang hingga pemilu dengan harapan dapat merugikan Partai Republik dan menghasilkan konfigurasi politik Amerika yang lebih lunak terhadap Iran. Namun, ia tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan bahwa keputusan Iran mempertahankan perang didorong oleh keinginan memengaruhi pemilu AS.

“Saya kira perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka putus asa mencoba memengaruhi pemilu,” kata Trump kepada wartawan sebelum bertolak menuju konvensi Partai Republik di Dallas, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Rabu, 9 September 2026.

Trump mengatakan Iran menginginkan perubahan politik di Washington agar tekanan terhadap program nuklir Teheran berkurang. Ia kembali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sementara Teheran selama ini menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai.

“Mereka ingin kita mendapatkan sekelompok orang lemah di sana, membiarkan mereka sendiri dan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump. “Yang mereka inginkan hanyalah senjata nuklir. Dan jika mereka memilikinya, seluruh dunia berada dalam masalah besar.”

Harga Bensin Belum Akan Turun

Pernyataan Trump tidak hanya menyangkut berakhirnya perang. Presiden AS itu juga mengakui harga bensin yang kini membebani konsumen Amerika kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama untuk turun.

Ketika ditanya apakah harga bensin dapat turun sebelum pemilihan paruh waktu, Trump mengatakan prosesnya kemungkinan melewati November. “Saya pikir akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada pemilu paruh waktu,” ujar Trump.

Data American Automobile Association atau AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler secara nasional berada di sekitar 4,22 dolar AS per galon pada 9 September 2026. Angka tersebut naik dari sekitar 4,14 dolar AS per galon menjelang akhir pekan Hari Buruh pada awal September.

Harga diesel bahkan mendekati 6 dolar AS per galon dan menyentuh rekor sekitar 5,94 dolar AS. Lonjakan biaya energi menambah tekanan terhadap rumah tangga, sektor transportasi, logistik, dan bisnis yang bergantung pada bahan bakar.

Trump sebelumnya berulang kali mengatakan harga minyak dan bensin akan turun tajam apabila perang selesai. Menteri Keuangan Scott Bessent bahkan pernah memperkirakan harga bensin dapat kembali mendekati 3 dolar AS per galon sekitar Hari Buruh, tetapi proyeksi tersebut tidak terwujud ketika konflik terus berlangsung.

Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Tekanan terhadap konsumen Amerika membesar setelah harga minyak Brent kembali menembus 100 dolar AS per barel pada Rabu. Brent ditutup sekitar 101,21 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Mei, setelah gelombang baru serangan AS-Iran meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi dari Teluk.

Eskalasi terbaru terjadi setelah Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz menyusul tindakan AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Reuters menyebut gelombang serangan itu sebagai eskalasi terbesar terhadap pelayaran sejak konflik dimulai.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |