Waketum Golkar Ingatkan Ketum Projo Budi Arie Jangan Sampai Ucapannya Jadi Senjata Makan Tuan

2 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menjadi sorotan karena pernyataannya soal kemungkinan terjadinya “percepatan” dinamika politik sebelum Pemilu 2029. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham mengingatkan Budi Arie untuk lebih berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik agar tidak berubah menjadi "senjata makan tuan".

“Jangan sampai pernyataannya itu menjadi bumerang, senjata makan tuan,” kata Idrus dalam siaran tertulis yang diterima Republika, Kamis (27/8/2026).

Idrus mengingatkan Budi Arie agar mempertimbangkan kemungkinan pernyataannya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Karena menurut Idrus, dalam politik setiap pernyataan dapat kembali kepada orang yang menyampaikannya. Bahkan, pernyataan yang dimaksudkan untuk membaca situasi politik tertentu bisa membuka kembali berbagai persoalan yang sebelumnya pernah menjadi perhatian publik.

Pernyataan Budi Arie dalam pandangan Idrus, bisa saja membuat publik kembali mengingat berbagai persoalan yang pernah dikaitkan dengan Budi Arie dan secara politik belum sepenuhnya selesai. “Dengan pernyataan Budi Arie itu bisa saja orang mengingat kembali masalahnya Budi Arie yang tentu secara politik praktis belum selesai,” ujarnya.

Idrus bahkan mengingatkan polemik tersebut dapat membuka ruang bagi pihak lain untuk kembali mengungkap berbagai persoalan yang pernah muncul dan kemudian menyerang Budi Arie secara politik. Menurut Idrus, pernyataan itu menjadi boomerang bagi Budi Arie secara politik praktis dan bahkan hukum yang dianggap “belum selesai”. “Bisa saja orang menyerang Budi Arie dengan mengungkapkan masalah-masalah yang ada selama ini,” ujarnya.

Idrus menilai pernyataan tersebut semestinya tidak disampaikan karena berpotensi menimbulkan spekulasi, memperkeruh suasana politik, bahkan dapat dibaca sebagai upaya mengadu domba Presiden ke-7 Joko Widodo dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Idrus, Indonesia merupakan rumah besar yang harus dijaga bersama. Karena itu, setiap tokoh politik maupun masyarakat yang memiliki ruang menyampaikan pendapat harus mempertimbangkan etika demokrasi, konstitusi, serta dampak dari setiap pernyataan yang disampaikan.

“Indonesia ini adalah rumah besar yang harus kita rawat bersama. Sejatinya kita membuat pernyataan-pernyataan itu sebagai tanggung jawab kita,” kata Idrus.

Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat dalam demokrasi bukan berarti seseorang dapat mengabaikan konsekuensi politik dari pernyataannya. Sebuah pernyataan, baik disampaikan secara langsung maupun tidak langsung, bisa ditafsirkan berbeda oleh publik.

“Bisa dibaca orang. Bisa ditafsirkan atau dibaca orang ini adalah mengadu domba,” kata Idrus.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi semakin sensitif karena pernyataan Budi Arie disampaikan di hadapan Jokowi. Dalam video yang beredar, Budi Arie menyampaikan insting politiknya melihat kemungkinan perubahan terjadi lebih cepat dari 2029 dan kemudian menanyakan kesiapan para relawan apabila terjadi “percepatan”.

Pernyataan tersebut kemudian memunculkan spekulasi di ruang publik mengenai kemungkinan perubahan politik sebelum berakhirnya masa pemerintahan Prabowo pada 2029. Bagi Idrus, persoalannya bukan semata-mata apakah pernyataan tersebut merupakan analisis pribadi Budi Arie atau bukan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pernyataan itu dibaca publik dan dampak politik yang mungkin ditimbulkannya.

“Jangan sampai sebuah pernyataan itu justru menimbulkan masalah baru,” katanya. 

Idrus secara khusus menyoroti kemungkinan dampak pernyataan tersebut terhadap hubungan Jokowi dengan pemerintahan Prabowo. Menurutnya, narasi mengenai kemungkinan perubahan politik sebelum 2029 dapat ditafsirkan sebagai upaya mempertentangkan Jokowi dengan pemerintahan yang sedang berjalan.

“Pasti juga berdampak terhadap hubungan antara Pak Jokowi dengan pemerintahan yang ada,” kata Idrus.

Ia menilai hal tersebut berbahaya apabila berkembang menjadi persepsi politik di tengah masyarakat. “Ini sangat berbahaya. Yang sejatinya ini adalah satu kesatuan, kita semakin solid untuk merawat Republik ini, apa pun perannya,” ujarnya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |