Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kadang bencana datang dengan suara sirene. Kadang pula ia datang diam-diam, lalu membuat kita lupa bahwa sedang bernapas. Karhutla termasuk jenis kedua.
Api terlihat di kejauhan, tapi musuh sebenarnya justru masuk melalui hidung, tenggorokan, paru-paru, kamar tidur, ruang kelas, dan akhirnya rumah sakit.
Laporan The Guardian 21 September 2026 menggambarkan situasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan yang semakin serius. Hingga akhir Agustus, Nusantara Atlas mencatat sekitar 895.657 hektare lahan telah terbakar di Indonesia.
Angka itu 34 persen lebih tinggi daripada periode yang sama pada 2019, juga karena El Niño. Tapi luas lahan terbakar sebenarnya belum menggambarkan ukuran penderitaannya. Api dapat kita lihat dari helikopter. Asapnya justru kita hirup sambil makan nasi.
Per 9 September, Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak.
Pada 1 September jumlahnya masih 50.891 kasus. Dalam sembilan hari, angkanya lebih dari dua kali lipat. Sebanyak 26.545 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun.
Inilah bagian yang sering hilang dari statistik kebakaran. Kita sibuk menghitung hektare, sementara manusia menghitung napas.
Asap karhutla bukan sekadar kabut yang membuat foto kota terlihat dramatis. Ia membawa partikulat halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
Karena itu, ketika sekolah ditutup, rumah sakit dipenuhi pasien, anak-anak memakai masker di ruang kelas, dan orang tua menutup pintu serta jendela sepanjang hari, kita sebenarnya sedang menyaksikan krisis kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan kehutanan.
Di Sampit, Kalimantan Tengah, kualitas udara bahkan sempat mencapai indeks 1.142 pada 10 September menurut pemantauan IQAir. Padahal indeks 0–50 dikategorikan sehat, sedangkan angka di atas 300 sudah masuk tingkat berbahaya.
Kalau angka 1.142 terasa seperti angka dari planet lain, masalahnya justru di situ. Kita terlalu terbiasa dengan angka kecil dalam kehidupan sehari-hari sehingga angka pencemaran sebesar itu terdengar seperti nomor telepon. Padahal yang sedang diukur bukan saldo rekening, melainkan kualitas udara.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Lahan gambut yang sudah dikeringkan dapat terbakar bukan hanya di permukaan, tetapi juga di bawah tanah. Api bisa bergerak diam-diam, muncul kembali di tempat lain, dan menghasilkan asap dalam waktu panjang.
David Gaveau dari Nusantara Atlas menyebut kebakaran semacam ini sebagai warisan degradasi hutan dan pengeringan gambut selama puluhan tahun.
Maka kita perlu berhenti melihat setiap karhutla sebagai kejadian tunggal. Ini bukan sekadar “ada titik api hari ini”. Ada sejarah panjang di belakangnya: pembukaan lahan, pengeringan gambut, perubahan tutupan hutan, tata kelola konsesi, kebiasaan membakar, lemahnya pengawasan, lalu datanglah musim kering.
El Niño dalam cerita ini memang penting. Tahun ini kondisinya disebut “super El Niño”, yang memperpanjang dan memperkuat kekeringan.
BMKG sendiri pada 7 September mengingatkan bahwa September masih menjadi fase kritis karhutla karena kondisi kering, pengaruh El Niño, dan tingginya jumlah hotspot.
Namun El Niño tidak membawa korek api. Inilah kalimat yang seharusnya kita ingat. Cuaca dapat menyediakan bahan bakar bagi api, tetapi manusia sering menyediakan apinya.
Mark Parrington dari Copernicus mengatakan El Niño memperkuat kebakaran yang memang biasa terjadi pada musim tersebut. Gaveau bahkan merumuskannya lebih tajam: El Niño adalah enabler, sedangkan “match”-nya adalah manusia.
Jadi, menyalahkan El Niño saja kira-kira seperti menyalahkan angin karena rumah terbakar. Angin memang membuat api membesar. Tetapi kita tetap perlu bertanya: siapa yang menyalakan korek, siapa yang membiarkan bensin terbuka, dan siapa yang bertahun-tahun membangun rumah di atas tumpukan jerami?
Dampaknya bahkan tidak berhenti di batas administratif Indonesia. Asap bergerak mengikuti angin dan menjadi transboundary haze. Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan sebagian Filipina ikut merasakan dampaknya.
Di Kuching, kualitas udara berulang kali berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Artinya, asap tidak mengenal paspor. Ia tidak bertanya apakah seseorang warga Indonesia, Malaysia, atau Singapura sebelum masuk ke paru-parunya.
Di sinilah masalah karhutla berubah menjadi persoalan diplomasi lingkungan. Negara tetangga dapat mengirim bantuan, seperti Malaysia dan Jepang yang menawarkan atau mengirim kemampuan pemadaman udara. Tetapi kerja sama internasional tidak boleh berubah menjadi kebiasaan tahunan: Indonesia membakar, tetangga batuk, lalu semua bertemu setelah asap menebal.
Pemerintah memang telah bergerak. Polisi menangani kasus pembakaran, pemerintah mengerahkan pesawat, helikopter, drone, dan personel militer, sementara bantuan internasional ikut masuk.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
18
















































