CANTIKA.COM, Jakarta - Belakangan ini, perhatian publik tertuju pada sebuah billboard dan poster film Aku Harus Mati. Terpampang di ruang terbuka yang dilalui berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, visual bernuansa dramatis seperti ini mungkin dimaksudkan sebagai strategi promosi hiburan. Namun dari sudut pandang kesehatan jiwa, pesan yang disampaikan berpotensi menimbulkan pertanyaan penting: apakah konten semacam ini aman bagi masyarakat luas?
Menurut psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ dari Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, paparan visual yang menampilkan narasi kematian secara eksplisit dapat menjadi pemicu psikologis bagi individu yang sedang berada dalam kondisi rentan. Bagi sebagian orang, judul tersebut mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari promosi film. Namun bagi mereka yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, rasa putus asa, trauma, atau ide bunuh diri, pesan semacam ini bisa memperkuat pikiran negatif yang sudah ada sebelumnya.
Bunuh Diri sebagai Isu Kesehatan Publik
Bunuh diri merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang nyata dan kompleks. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia. Angka tersebut menggambarkan bahwa perilaku bunuh diri bukan fenomena langka dan dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, terutama usia muda.
"Sering kali, individu yang mengalami tekanan psikologis tampak baik-baik saja di permukaan. Padahal, di balik itu mereka sedang berjuang menghadapi pergulatan batin yang berat. Dalam kondisi seperti ini, paparan pesan bernuansa keputusasaan berpotensi memperkuat pikiran negatif yang sudah ada," papar dr. Lahargo melalui siaran pers, Senin, 6 April 2026.
Bagaimana Konten Visual Bisa Menjadi Trigger?
Dalam kajian suicidologi, terdapat konsep suicide contagion atau kecenderungan imitasi perilaku bunuh diri akibat paparan informasi tertentu. Fenomena ini dikenal sebagai Werther Effect, yaitu ketika pemberitaan, visual, atau narasi terkait kematian dapat meningkatkan risiko perilaku serupa pada individu yang rentan.
Pesan yang menonjolkan tema kematian secara dramatis dapat memicu beberapa mekanisme psikologis, antara lain:
1. Priming Effect
Paparan kata atau gambar tertentu dapat mengaktifkan asosiasi pikiran yang berkaitan. Judul dengan muatan kematian dapat memunculkan pikiran serupa, terutama pada individu dengan kondisi mental yang sedang rapuh.
2. Cognitive Reinforcement
Pada individu dengan depresi, sering muncul pikiran otomatis seperti merasa tidak berharga atau putus harapan. Paparan narasi yang menekankan keputusasaan berpotensi memperkuat keyakinan negatif tersebut.
3. Emotional Suggestibility
Remaja dan individu yang sedang mengalami tekanan emosional cenderung lebih mudah terpengaruh oleh pesan visual dramatis. Identifikasi dengan cerita atau karakter tertentu dapat meningkatkan risiko keterlibatan emosional yang lebih dalam.
Peran Media dan Konten dalam Membentuk Persepsi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tontonan, bacaan, maupun konten digital dapat memengaruhi kondisi psikologis, terutama jika menampilkan kematian secara sensasional atau romantis. Penggambaran bunuh diri sebagai solusi, pengulangan visual kematian, serta narasi keputusasaan ekstrem dapat meningkatkan risiko identifikasi psikologis bagi sebagian individu.
Meski demikian, penting dipahami bahwa media bukan satu-satunya penyebab. Biasanya, faktor pemicu berasal dari kombinasi berbagai kerentanan, seperti depresi, trauma, konflik relasi, kesepian, tekanan finansial, hingga krisis identitas.
Pentingnya Psychological Safety di Ruang Publik
Ruang publik merupakan area bersama yang diakses oleh masyarakat dengan latar belakang kondisi mental yang beragam. Di tempat yang sama, bisa saja terdapat individu yang sedang berduka, remaja yang tengah mencari jati diri, atau seseorang yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup.
"Karena itu, pesan visual di ruang publik sebaiknya mempertimbangkan aspek psychological safety. Tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memperhatikan dampak emosional yang mungkin ditimbulkan," lanjut dr. Lahargo.
Konten yang viral belum tentu aman bagi kesehatan mental. Judul atau visual yang menonjolkan rasa takut dan keputusasaan berpotensi melukai individu yang sedang berusaha bertahan dalam situasi sulit. Kesadaran kolektif mengenai pentingnya sensitivitas terhadap kesehatan mental menjadi langkah penting untuk menciptakan ruang publik yang lebih suportif bagi semua.
Pilihan Editor: Kemenkes Soroti Baliho Film Aku Harus Mati yang Picu Masalah Kejiwaan
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































