Menlu Iran ke Beijing, Perang Kuras Amunisi dan Rusak Pesawat Tempur AS

56 minutes ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan mengunjungi China pada Rabu (16/9/2026) untuk bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi. Pertemuan berlangsung ketika Beijing terus mendorong penyelesaian diplomatik perang di Timur Tengah, sementara laporan terbaru pengawas Pentagon mengungkap besarnya biaya, kerusakan pangkalan, kehilangan pesawat, dan tekanan terhadap persediaan amunisi Amerika Serikat (AS).

Kementerian Luar Negeri China mengumumkan kunjungan tersebut pada Selasa (15/9/2026). Dalam pernyataan resminya, Beijing mengatakan Araghchi akan berada di China pada 16 September dan mengadakan pembicaraan dengan Wang Yi, yang juga merupakan anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China.

“Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi akan mengunjungi China pada 16 September. Anggota Biro Politik Komite Sentral CPC sekaligus Menteri Luar Negeri Wang Yi akan mengadakan pembicaraan dengannya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China, sebagaimana diberitakan Xinhua, Selasa, 15 September 2026.

Kunjungan Araghchi menempatkan Beijing kembali di tengah pusaran diplomasi Timur Tengah. China memiliki hubungan politik dan ekonomi yang erat dengan Iran serta berkepentingan terhadap stabilitas jalur perdagangan energi di kawasan. Beijing selama konflik menyerukan penghentian pertempuran dan penyelesaian melalui perundingan.

Kunjungan itu juga berlangsung menjelang kemungkinan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September. Di saat bersamaan, hubungan China-Iran mendapat sorotan di Washington terkait tudingan bantuan Beijing kepada Teheran selama konflik.

Trump pada Ahad (13/9/2026) membantah laporan The Wall Street Journal yang menyebut China memberikan citra satelit sebuah pangkalan di Yordania kepada Iran. Menurut laporan tersebut, citra itu membantu Iran melakukan serangan yang menewaskan tiga personel militer AS pada Juli. China membantah tudingan bahwa Beijing memberikan bantuan semacam itu.

Perang Telan Sedikitnya 33,4 Miliar Dolar AS

Diplomasi Araghchi di Beijing berlangsung ketika Washington mulai memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai harga yang harus dibayar dalam perang melawan Iran. Kantor Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS merilis laporan kepada Kongres pada Senin, 14 September 2026, mengenai Operation Epic Fury. Laporan tersebut mencakup operasi hingga 30 Juni 2026.

CBS News melaporkan pada Selasa, 15 September 2026, laporan tersebut memperkirakan biaya Operation Epic Fury mencapai 33,4 miliar dolar AS untuk periode 28 Februari hingga akhir Juni. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,3 miliar dolar AS digunakan untuk amunisi.

Besarnya penggunaan persenjataan mulai berdampak pada persediaan militer AS. Laporan inspektur jenderal menyatakan pengeluaran amunisi dalam Operation Epic Fury telah mengakibatkan kekurangan inventaris strategis sekaligus memperlihatkan hambatan kemampuan industri pertahanan AS dalam memasok kembali amunisi.

Temuan tersebut menjadi salah satu bagian penting laporan karena menunjukkan biaya perang tidak berhenti pada nilai uang yang telah dikeluarkan. Kemampuan mengganti rudal, pencegat, dan amunisi yang digunakan juga menjadi persoalan kesiapan militer dalam jangka lebih panjang.

The Washington Post, Selasa, 15 September 2026, melaporkan kekurangan tersebut merupakan bagian dari penilaian publik paling komprehensif sejauh ini mengenai dampak perang Iran terhadap militer AS. Lebih dari 50 ribu personel AS telah dikerahkan di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk mendukung operasi tersebut.

Ratusan Bangunan Pangkalan AS Rusak

Dampak serangan balasan Iran juga lebih luas daripada yang sebelumnya diketahui publik. Serangan Iran merusak atau menghancurkan ratusan bangunan dan struktur di pangkalan AS yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, Selasa, 15 September 2026.

Fasilitas diplomatik AS juga terkena dampaknya. Laporan pengawas Pentagon mencatat kerusakan sekitar 184 juta dolar AS pada fasilitas diplomatik Amerika di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Perang juga memaksa Washington melakukan operasi evakuasi berskala besar. Sekitar 9.000 warga Amerika meninggalkan kawasan menggunakan penerbangan carter dan bus, sementara Departemen Luar Negeri AS menanggung biaya sekitar 113 juta dolar AS untuk berbagai kebutuhan terkait konflik, termasuk hampir 80 juta dolar AS untuk respons darurat dan evakuasi.

Dampaknya bahkan menjalar ke program bantuan AS di Timur Tengah. Laporan tersebut menyebut perang memberikan “dampak negatif langsung” terhadap sejumlah program bantuan, termasuk pertanian, pangan, kesehatan, nutrisi, air, dan sanitasi, akibat kepergian staf kedutaan dari sejumlah lokasi.

F-35A Terkena Tembakan Musuh

Laporan tersebut juga mengungkap kerusakan signifikan terhadap armada udara AS. Salah satu temuan paling menonjol adalah sebuah F-35A mengalami kerusakan akibat tembakan musuh selama perang Iran.

The Washington Post melaporkan, Selasa, 15 September 2026, laporan pengawas Pentagon mencatat sebuah F-35A rusak akibat tembakan musuh di atas Iran. Empat pesawat tempur F-15E juga dilaporkan hancur.

CBS News pada hari yang sama melaporkan empat F-15 hancur, satu F-35 mengalami kerusakan, tujuh pesawat tanker KC-135 rusak, dan hingga 30 drone MQ-9 Reaper hancur.

Data tersebut menunjukkan serangan Iran tidak hanya menimbulkan kerusakan terhadap instalasi darat. Pesawat tempur, tanker pengisian bahan bakar, helikopter, dan pesawat nirawak AS juga menjadi bagian dari kerugian material sepanjang operasi.

Kerusakan F-35A mendapat perhatian khusus karena pesawat tersebut merupakan jet tempur siluman generasi kelima dan menjadi salah satu tulang punggung modernisasi kekuatan udara AS serta negara-negara sekutunya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |