Musisi Pendukung Konser Ed Sheeran Mundur, Bentuk Solidaritas untuk Macklemore

1 hour ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musisi pendukung dan band pengiring tur Ed Sheeran resmi mengundurkan diri. Aksi mundurnya para penampil ini merupakan bentuk solidaritas terhadap rapper Macklemore, yang sebelumnya dikeluarkan dari jajaran penampil akibat menyampaikan seruan pembelaan terhadap Palestina di atas panggung.

Gelombang pengunduran diri ini diawali oleh Finneas, produser sekaligus penyanyi yang juga merupakan kakak dari musisi Billie Eilish. Finneas, yang dijadwalkan menjadi pembuka dalam enam konser Ed Sheeran di Amerika Latin pada November mendatang, menegaskan bahwa seniman tidak boleh dibungkam ketika menyuarakan kebenaran.

"Seniman tidak boleh dibungkam ketika mereka bersuara untuk orang-orang yang tertindas. Saya telah memutuskan untuk mundur dari jadwal tur mendatang bersama Ed Sheeran. Saya berdiri bersama Palestina dan rakyatnya," tulis Finneas dikutip dari akun Instagramnya @finneas pada Rabu (16/9/2026).

Langkah tersebut disusul oleh penyanyi dan penulis lagu asal Irlandia, Aaron Rowe. Rowe, yang dijadwalkan tampil dalam sepuluh tanggal tersisa di Amerika Utara, mengungkapkan bahwa keputusan ini terbilang sangat berat karena Ed Sheeran adalah teman baik yang telah mengubah hidupnya. Namun, ia tidak bisa tinggal diam terhadap situasi geopolitik saat ini.

"Sebagai orang Irlandia, kami sangat memahami arti genosida, kelaparan yang dipaksakan, dan pendudukan dengan kekerasan. Saya tidak bisa berdiam diri dan membiarkan para miliarder menggunakan posisi kekuasaan mereka untuk membungkam suara-suara sah dari mereka yang bersuara menentang genosida Israel dan yang menyoroti pembunuhan kejam terhadap anak-anak," ujar dikutip dari laman The Guardian.

Sikap serupa diambil oleh grup musik asal Denmark, Lukas Graham, serta band pop-folk asal Irlandia, Beoga, yang selama 10 tahun terakhir bertindak sebagai band pengiring Sheeran di atas panggung. Vokalis Lukas Graham, Lukas Forchhammer, melayangkan kritik pedas terhadap pengaruh uang yang mencoba mengontrol narasi kemanusiaan.

"Kita harus bisa berbicara tentang perang, tentang warga sipil yang terbunuh, tentang anak-anak yang berhak untuk tumbuh dewasa. Di mana pun mereka tinggal, bendera apa pun yang berkibar di atas mereka. Uang tidak memberi Anda hak untuk memiliki percakapan ini. Tidak boleh ada saldo bank seseorang yang menentukan siapa yang boleh berbicara atau penderitaan mana yang diizinkan untuk kita akui," ujar Forchhammer. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |