Pimpin Malam Paskah, Paus Leo XIV Serukan Damai di Tengah Perang

5 hours ago 13

PAUS Leo XIV memimpin perayaan Malam Paskah pertamanya di Basilika Santo Petrus pada Sabtu malam. Ia membawa lilin menyala di tengah suasana gelap dan sunyi. Dalam misa tersebut, Paus Leo XIV menyerukan agar perayaan Paskah menjadi momentum menghadirkan harmoni dan perdamaian di dunia yang dilanda konflik.

Paskah merupakan perayaan penting umat Kristen untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus setelah penyaliban-Nya. Dalam prosesi liturgi, lilin Paskah dinyalakan sebagai simbol 'Terang Kristus yang bangkit dalam kemuliaan'.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Para pembawa lilin berhenti untuk menyalakan lilin jemaat saat mereka berjalan menyusuri lorong tengah, menyebarkan cahaya yang berkelap-kelip di basilika yang gelap sebelum lampu menyala saat Paus tiba di altar utama bergaya barok, diikuti oleh para kardinal yang mengenakan jubah putih.

Dalam khotbahnya seperti dilansir APNews, Paus Leo XIV menggambarkan dosa sebagai penghalang berat antara manusia dari Tuhan. Ia menyamakan dosa dengan batu yang menutup makam Yesus, yang kemudian terguling sebagai simbol kebangkitan dan harapan baru.

“Ada batu-batu yang tampak tidak tergoyahkan seperti ketakutan, egoisme, kebencian yang membebani hati manusia dan memicu perang serta ketidakadilan,” ujarnya.

Ia mengajak umat beriman untuk tidak menyerah pada kondisi tersebut dan terus memperjuangkan perdamaian. Seruan itu disampaikan di tengah meningkatnya konflik global, termasuk perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan kedua, serta perang Rusia di Ukraina. Paus sebelumnya juga menegaskan bahwa Tuhan tidak membenarkan kekerasan yang dilakukan atas nama agama.

Paus Leo XIV dijadwalkan kembali memimpin misa terbuka di Lapangan Santo Petrus pada Minggu pagi, sebelum menyampaikan pesan Paskah “Urbi et Orbi” kepada dunia.

Namun, perayaan Paskah tahun ini berlangsung dalam suasana muram di sejumlah wilayah Timur Tengah. Di Yerusalem, ibadah di Gereja Makam Suci—yang diyakini sebagai tempat kebangkitan Kristus—dilakukan secara terbatas akibat pembatasan keamanan.

Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, menggambarkan suasana kota hampir sunyi total di tengah bayang-bayang perang. Sementara di Libanon Selatan, wilayah mayoritas Kristen dilaporkan terjebak dalam baku tembak antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Sejumlah warga tetap berupaya merayakan Paskah di tengah situasi genting. Di Debel kawasan Libanon Selatan dekat perbatasan Israel, warga bersiap merayakan Minggu Paskah meskipun suara pemboman terdengar di sekitar desa mereka. Desa itu pun hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar dan bergantung pada pengiriman bantuan. “Situasinya tragis,” kata tokoh masyarakat setempat, Joseph Attieh, kepada AFP melalui telepon seperti dilansir ABS-CBN.

“Orang-orang ketakutan, dan suara tembakan artileri serta senjata tidak berhenti sedetik pun sejak tadi malam. Kami tidak bisa tidur," kata Attieh yang menaruh harapan kepada Tuhan. “Ini adalah satu-satunya secercah harapan yang tidak akan kami lepaskan.”

Perayaan Paskah tahun ini menjadi pengingat kuat akan kontras antara pesan kebangkitan dan harapan dengan realitas konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.

Pilihan Editor: Paus Leo XIV: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Suka Perang

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |