REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov menyampaikan peringatan keras mengenai arah perang negaranya melawan Rusia. Ia menilai Ukraina sedang berada pada titik balik dan hanya memiliki waktu beberapa bulan untuk mengambil keputusan penting yang dapat mengubah jalannya perang.
Fedorov menyampaikan penilaian itu dalam wawancara eksklusif dengan Reuters di Kyiv pada Senin, 24 Agustus 2026, yang dipublikasikan pada Selasa, 25 Agustus 2026. Foto Reuters juga mencatat wawancara tersebut dilakukan di Kyiv pada 24 Agustus, sementara laporannya diterbitkan sehari kemudian.
“Tampaknya kami secara bertahap, perlahan-lahan kalah,” kata Fedorov, sebagaimana dilaporkan Reuters, Selasa (25/8/2026). Meski demikian, ia menegaskan Ukraina masih memiliki peluang untuk menang apabila segera memiliki rencana yang jelas untuk mengakhiri perang dan memperbaiki kelemahan internalnya.
Pernyataan tersebut mencolok karena Fedorov baru sebulan lebih berada di luar pemerintahan dan sebelumnya memimpin langsung Kementerian Pertahanan Ukraina. Reuters menyebut penilaiannya sebagai penyimpangan yang nyata dari retorika resmi Kyiv mengenai prospek perang.
Fedorov menilai Ukraina belum memiliki visi menyeluruh mengenai bagaimana memenangkan perang yang dimulai dengan invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022. Menurut dia, kegagalan berinovasi, korupsi yang mengakar, jaringan patronase, serta kurangnya independensi politik lembaga pemerintah ikut menghambat kemampuan negara menghadapi Rusia.
Kantor Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan tanggapan kepada Reuters atas kritik tersebut. Kantor kepresidenan menyatakan Fedorov sebelumnya memberikan penilaian positif mengenai jalannya perang ketika masih memimpin Kementerian Pertahanan dan yang berubah setelah itu adalah status pribadinya.
Rusia Masih Bergerak Maju di Donbas
Peringatan Fedorov muncul ketika pasukan Rusia masih bergerak maju secara perlahan di wilayah Donbas, meskipun menurut Reuters laju perebutan wilayah Moskow lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, Ukraina menghadapi persoalan kekurangan personel infanteri di sebagian garis depan.
Tekanan juga datang melalui udara karena Rusia menghantam pabrik dan gudang Ukraina dengan puluhan rudal balistik setiap bulan. Kemampuan Ukraina mencegat rudal-rudal tersebut terbatas ketika persediaan rudal pencegat semakin menipis.
Namun gambaran perang tidak sepenuhnya menguntungkan Rusia. Ukraina meningkatkan serangan drone dan rudal jauh ke wilayah Rusia, menghantam sejumlah pabrik militer dan menyebabkan kerusakan serius pada kilang minyak hingga ikut memicu kekurangan bahan bakar.
Karena itu, pernyataan Fedorov bahwa Ukraina “perlahan-lahan kalah” merupakan penilaian politik dan militernya terhadap arah perang, bukan pernyataan bahwa Rusia telah memenangkan konflik. Reuters sendiri menggambarkan medan perang lebih kompleks: Rusia masih maju perlahan di Donbas, tetapi Ukraina tetap mampu memberikan kerusakan signifikan jauh di belakang garis Rusia.
Sentimen publik Ukraina juga belum menunjukkan keyakinan bahwa kekalahan tidak terhindarkan. Sebuah survei pada akhir Juli yang dikutip Reuters menemukan 82 persen warga Ukraina percaya negaranya akan menang, meskipun sebagian besar memperkirakan pertempuran akan berlangsung hingga 2027 atau lebih lama.

2 hours ago
17
















































