Kenapa Bisnis Sewa Pakaian yang Diklaim Ramah Lingkungan Cenderung Berumur Pendek?

1 day ago 14

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Business and Industrial Marketing mengungkapkan bahwa bisnis penyewaan pakaian yang diklaim lebih ramah lingkungan ternyata sulit bertahan lama. Para pelaku model bisnis tersebut mengklaim skema rental bisa menekan jumlah limbah dari industri sandang.

“Menyewa pakaian dapat memperpanjang masa pakai setiap pakaian, sehingga berkontribusi terhadap konsumsi yang lebih lama," kata Frida Lind, peneliti dari Chalmers University of Technology Swedia, dikutip dari Earth.com pada Rabu, 2 April 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dalam penelitian berjudul ‘Exploring renting models for clothing items—resource interaction for value creation’ yang diterbitkan pada Senin, 6 Januari lalu, Frida dan dua peneliti lainnya meneliti sembilan perusahaan penyewaan pakaian di Swedia. Saat ini hanya beberapa entitas dari jumlah tersebut yang masih aktif, selebihnya sudah tutup.

Ada tiga skema penyewaan pakaian yang diterapkan oleh entitas tersebut, yaitu rental berbasis keanggotaan, berlangganan, dan penyewaan perorangan. Pada sistem keanggotaan, konsumen mendaftar dan meminjam pakaian untuk jangka waktu tertentu, seperti meminjam buku di perpustakaan.

Untuk sistem berlangganan, konsumen harus membayar biaya bulanan dan menerima pilihan pakaian yang dapat dikenakan secara bergiliran. Sedangkan skema perorangan khusus untuk konsumen yang menyewa satu pakaian tertentu untuk tujuan khusus, seperti perlengkapan jet ski.

Model bisnis ini, merujuk penelitian tersebut, membutuhkan waktu panjang. Prosesnya dimulai dari pengembalian pakaian, pemeriksaan, pembersihan, hingga disiapkan kembali untuk penyewaan. Tim peneliti mengungkap sebagian besar model ini butuh banyak waktu dan sokongan agar bisa bertahan di pasar.

“Perusahaan juga berjuang dengan tingginya biaya pergudangan dan logistik,” ucap Frida.

Studi yang sama mengungkapkan bahwa industri fesyen menjadi penyumbang polusi global terbesar. Lebih dari 90 persen limbah pakaian di Swedia, sebagai contoh, turut menyebabkan dampak negatif terhadap iklim. Namun peneliti tidak mengukur dampak lingkungan dari setiap model bisnis dalam studi ini.

Penelitian dari Universitas Chalmers University of Technology menunjukkan 70 persen dampak iklim akibat pakaian muncul dari proses produksinya, selebihnya berhubungan dengan belanja konsumen. Frida menyebut rental pakaian dapat memperpanjang masa pakai setiap pakaian, bila dibandingkan dengan pakaian yang tak terpakai di lemari. Di Amerika Serikat, setiap individu membuang rata-rata 81 pon atau 36,74 kilogram pakaian per tahun. Jumlahnya sekitar 26 pon atau 11,79 di Uni Eropa.

Pasar Khusus yang Menjanjikan

Para peneliti tersebut menyatakan tidak semua model bisnis rental pakaian membawa dampak buruk terhadap lingkungan. Sejumlah perusahaan menyasar pasar yang lebih spesifik, seperti pasar perlengkapan luar ruangan.

“Mereka menemukan ceruk pasarnya dan melihat bahwa ada kebutuhan khusus yang membuat pelanggan bersedia membayar setiap kali mereka perlu menggunakan jenis pakaian itu,” tutur Frida.

Penyedia penyewaan pakaian yang bekerja sama dengan produsen, desainer, dan pemasok pakaian, juga bisa memperoleh manfaat lebih besar. Rantai bisnis rental baju masih bisa beradaptasi dengan tren pakaian.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |