Penegasan tersebut disampaikan Kepala Biro Hukum NPC Indonesia, Satriawan Sulaksono, merespons perhatian publik terkait inisiatif penggalangan dana yang dilakukan sejumlah atlet Tuli atau tuna rungu untuk mengikuti kejuaraan internasional.
Satriawan menjelaskan, dalam sistem pembinaan NPC Indonesia, keikutsertaan atlet pada kejuaraan internasional atau single event merupakan bagian dari rangkaian tryout Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) menuju Paralimpiade. Keikutsertaan tersebut bertujuan mengumpulkan poin sekaligus meningkatkan peringkat atlet agar dapat memenuhi persyaratan kualifikasi.
Karena itu, menurut Satriawan, penentuan kejuaraan internasional yang akan diikuti kontingen membutuhkan konsolidasi dan perencanaan yang matang antara organisasi pembina dan Kemenpora. Hal tersebut diperlukan agar dukungan anggaran pemerintah dapat disalurkan secara tepat sasaran, akuntabel, dan terkoordinasi.
"Kegiatan single event internasional merupakan bagian dari rangkaian tryout Pelatnas menuju Paralimpiade. Karena itu, penentuan kejuaraan yang diikuti perlu melalui konsolidasi dan perencanaan yang matang agar dukungan pemerintah dapat diberikan secara tepat sasaran," ujar Satriawan.
Terkait pembinaan atlet disabilitas rungu atau Tuli, NPC Indonesia menyatakan dukungan penuh kepada PATRIN sebagai organisasi yang telah resmi diakui dan menjadi anggota International Committee of Sports for the Deaf (ICSD).
Status keanggotaan ICSD merupakan persyaratan penting bagi sebuah negara untuk dapat mengirimkan kontingen resmi ke ajang olahraga tertinggi bagi atlet Tuli, yakni Deaflympics. Keanggotaan tersebut juga menjadi bagian dari persyaratan untuk mengikuti kompetisi tingkat regional di bawah naungan Asia Pacific Deaf Sports Confederation (APDSC) dan Asian Deaf Sports Federation (ADSF).
Satriawan mengatakan, pembinaan olahraga prestasi bagi atlet tuna rungu di Indonesia sudah semestinya berada di bawah organisasi yang mendapatkan pengakuan dari ICSD. Ia menyebut posisi tersebut serupa dengan NPC Indonesia yang bernaung di bawah International Paralympic Committee (IPC), Asian Paralympic Committee (APC), dan ASEAN Para Sports Federation (APSF).
"Sebagaimana NPC Indonesia bernaung di bawah IPC, APC, dan APSF sesuai amanat UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, maka pembinaan olahraga prestasi tuna rungu di Indonesia sudah tepat bernaung pada organisasi yang diakui oleh ICSD. Lembaga resmi yang berwenang memberangkatkan kontingen Indonesia ke ajang multievent tersebut adalah PATRIN," ujar Satriawan.
Ia menegaskan, para atlet Tuli yang memiliki keinginan untuk berprestasi di tingkat nasional maupun internasional tidak perlu merasa khawatir. Pemerintah melalui Kemenpora dinilai memiliki komitmen untuk terus mendorong kemajuan olahraga disabilitas di Indonesia.
"Sahabat atlet Tuli yang ingin berprestasi di kancah olahraga tidak perlu khawatir. Pemerintah melalui Kemenpora sangat berkomitmen mendukung kemajuan dan prestasi olahraga disabilitas, baik di tingkat nasional maupun internasional," lanjutnya.
Satriawan menambahkan, langkah administratif dan konsolidasi internal perlu segera dituntaskan bersama. Hal itu penting agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang berkembang di ruang publik terkait pembinaan dan keberangkatan atlet Tuli ke kompetisi internasional.
Para atlet juga diharapkan dapat berhimpun di bawah naungan PATRIN. Dengan demikian, seluruh persiapan teknis, kebutuhan fasilitas, serta berbagai kebutuhan lainnya dapat dikoordinasikan secara lebih terstruktur bersama Kemenpora.
NPC Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan yang diberikan Kemenpora terhadap pembangunan ekosistem olahraga disabilitas nasional. Dukungan pemerintah dinilai menjadi salah satu fondasi utama untuk memastikan terpenuhinya kesetaraan hak keolahragaan bagi seluruh atlet disabilitas di Tanah Air.
Melalui penguatan sinergi antara NPC Indonesia, Kemenpora, dan PATRIN, pembinaan atlet disabilitas diharapkan dapat berjalan semakin terarah, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu membuka ruang yang lebih besar bagi atlet disabilitas Indonesia untuk mengukir prestasi di pentas internasional.

2 hours ago
12

















































