Raja Charles III Bertemu Trump, Pidato Perdana di Kongres AS

4 hours ago 20

RAJA Charles III dari Kerajaan Inggris bertemu dengan Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Selasa 28 April 2026, pada hari kedua lawatannya ke Amerika Serikat. Pertemuan ini sebelum ia menyampaikan pidato bersejarah kepada Kongres selama kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat sebagai raja bersama Ratu Camilla.

Perjalanan ini seperti dilansir CBS News, yang menandai peringatan 250 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan, terjadi pada saat yang genting bagi hubungan AS-Inggris. Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer saat ini tengah berselisih mengenai perang Iran dan Selat Hormuz.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kunjungan mereka menandai kunjungan pertama raja Inggris ke AS sejak Ratu Elizabeth II berkunjung pada 2007. Raja Charles mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Donald Trump di Ruang Oval dan berpidato di hadapan pertemuan gabungan Kongres.

Seperti dilaporkan Fox News, pidato gabungan raja tersebut merupakan kali kedua dalam sejarah seorang raja Inggris berpidato di hadapan Kongres AS. Yang pertama adalah pidato Ratu Elizabeth pasca-Perang Teluk pada 1991.

Selain berpidato di hadapan Kongres, Raja Charles bertemu dengan Ketua DPR Mike Johnson, R-La., pada Selasa. Raja dan ratu juga kemudian berpartisipasi dalam jamuan makan malam kenegaraan dengan Trump dan Ibu Negara Melania Trump.

Raja Charles III menghadiahkan Trump sebuah artefak angkatan laut bersejarah selama jamuan makan malam kenegaraan. Ia menyampaikan momen tersebut dengan lelucon yang mengundang tawa dari para hadirin.

Raja menghadiahkan Trump lonceng asli dari HMS Trump, sebuah kapal selam Inggris yang diluncurkan pada 1944. Lonceng ini sempat dipakai di Pasifik selama Perang Dunia II.

“Malam ini, Tuan Presiden, saya dengan senang hati mempersembahkan kepada Anda sebagai hadiah pribadi lonceng asli ini,” kata Charles, seraya menambahkan bahwa lonceng ini “dapat menjadi bukti sejarah bersama bangsa kita dan masa depan yang cerah.”

Kemudian ia menambahkan sambil tersenyum, “Dan jika Anda perlu menghubungi kami, cukup hubungi kami,” yang disambut dengan hangat oleh para tamu.

Raja Charles III juga mengundang tawa selama jamuan makan malam kenegaraan dengan komentar sarkastik tentang sejarah dan bahasa di AS.

Merujuk pada komentar Trump tentang Eropa, Charles menyindir: “Berani saya katakan bahwa jika bukan karena kami, Anda akan berbicara bahasa Prancis?”

Ucapan itu memicu tawa dari hadirin, saat Raja menambahkan bahwa kedua negara “sangat mencintai sepupu Prancis kami,” sebelum kembali membahas hubungan abadi antara Amerika Serikat dan Inggris.

Hubungan Trump-Charles

Trump mengatakan kepada BBC dalam sebuah wawancara telepon pekan ini pekan ini bahwa ia berpikir kunjungan raja dapat membantu memperbaiki hubungan AS-Inggris.

"Tentu saja," kata Trump. "Dia fantastis. Dia pria yang fantastis. Jawabannya pasti ya."

"Saya mengenalnya dengan baik, saya sudah mengenalnya selama bertahun-tahun," kata Trump. "Dia pria yang berani, dan dia pria yang hebat. Kunjungan mereka pasti akan berdampak positif."

Tidak jelas kapan tepatnya mereka pertama kali bertemu, tetapi itu lebih dari dua dekade lalu. Pertemuan keduanya terjadi ketika Trump masih seorang pengusaha di kalangan masyarakat New York. Foto-foto menunjukkan Melania dan Donald Trump mengobrol dengan Charles di sebuah acara di Museum of Modern Art di New York City pada 2005.

Tegang karena Iran

Hubungan AS-Inggris memanas akhir-akhir ini. Hal itu terjadi setelah Trump sangat kritis terhadap keengganan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk bergabung dalam upaya perang AS-Israel atau memperebutkan Selat Hormuz.

Bahkan, ketika Inggris telah mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan mereka untuk operasi pertahanan. Presiden Trump juga mengejek kapal induk Inggris sebagai "mainan."

Trump juga mengatakan bahwa hubungannya dengan Starmer hanya akan "pulih" jika PM Inggris itu mengubah arah kebijakan imigrasi yang menurut Trump terlalu longgar.

Trump telah menyatakan kekecewaan yang meluas terhadap NATO atas penolakan aliansi tersebut untuk bergabung dalam upaya melawan Iran, yang dimulai dengan serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Trump bahkan telah mengangkat kemungkinan untuk meninggalkan NATO, di mana AS dan Inggris adalah anggota pendirinya.

Liana Fix, peneliti senior untuk Eropa di Council on Foreign Relations, mengatakan hubungan AS-Inggris "telah memburuk secara signifikan sejak awal ketika Starmer dianggap sebagai 'penasihat Trump'."

"Keengganan awal Inggris untuk mengizinkan penggunaan pangkalan untuk perang melawan Iran telah memperburuk bukan hanya para pendukung Trump di Washington D.C. tetapi juga hubungan dengan NATO, dan merusak apa yang tersisa dari kepercayaan akan hubungan khusus," katanya kepada CBS News.

Sebagian besar warga Inggris tidak memandang kunjungan raja ke AS dengan baik. Sebuah survei YouGov pada akhir Maret menemukan bahwa 49 persen publik Inggris mengatakan kunjungan tersebut harus dibatalkan. Ini dibandingkan dengan 33 persen yang mengatakan kunjungan tersebut harus dilanjutkan.

Simon Tisdall, seorang komentator urusan luar negeri untuk The Guardian, menulis bahwa raja harus berbicara terus terang tentang Trump dalam pidatonya di Kongres. Dalam sebuah artikel berjudul, "Protokol terkutuk," Tisdall menulis bahwa apa yang disebutnya sebagai "kebijakan peredaan" Starmer telah "gagal total."

"Trump pasti akan menggambarkan kehadiran Charles di jamuan makan malam kenegaraan Gedung Putih yang terpisah sebagai dukungan kerajaan terhadap pribadi dan kebijakannya," tulis Tisdall.

"Dan justru prospek yang menjengkelkan dari kudeta propaganda presiden inilah yang menyebabkan sebagian besar orang di Inggris menentang kunjungan tersebut. Starmer, sebaliknya, berharap kunjungan itu akan mengembalikan 'hubungan khusus' yang telah tercoreng ke jalur yang benar."

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |