Rumah Genset 1920 di Keraton Solo Hidup Lagi, Jadi Destinasi Wisata Edukasi Baru

3 hours ago 11
etelah 10 tahun terbengkalai dan sebagian temboknya roboh, Bangunan Generator Prabuwinatan di Kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat akhirnya selesai direvitalisasi. Bangunan bersejarah peninggalan tahun 1920 ini kini siap dibuka untuk publik sebagai destinasi wisata edukasi baru di Kota Solo. Prihatsari

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Setelah 10 tahun terbengkalai dan sebagian temboknya roboh, Bangunan Generator Prabuwinatan di Kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat akhirnya selesai direvitalisasi. Bangunan bersejarah peninggalan tahun 1920 ini kini siap dibuka untuk publik sebagai destinasi wisata edukasi baru di Kota Solo.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M. mengatakan revitalisasi ini penting untuk mengembalikan marwah kawasan keraton. “Sebelumnya tembok Prabuwinatan yang roboh membuat tampilan kurang baik. Sekarang sudah diperbaiki dan dikembalikan ke bentuk semula. Barang-barang yang dulunya ada di dalam sudah ditampilkan, sehingga kita bisa melihat fungsi aslinya sebagai rumah genset,” ujarnya saat peresmian, Minggu.

Maretha berharap setelah dipugar, masyarakat khususnya pelajar bisa belajar sejarah teknologi di keraton. Ke depan, bangunan ini juga ditargetkan menjadi tempat kunjungan wisata dan panggung pentas seni budaya. “Silakan dimanfaatkan. Tapi jika ingin digunakan tetap harus seizin pihak keraton,” tegasnya.

Proses pemugaran dilakukan dengan prinsip pelestarian cagar budaya. Sekretaris Jenderal Yayasan Kusumo Buwono, KPH Adipati Maji Noto Nagoro, menjelaskan seluruh material asli diselamatkan. “Atap bangunan masih utuh 100 persen dan kami gunakan kembali. Ubin lantai lama terpakai 55 persen. Batu bata keluaran 1920 ini sangat kokoh dan kami pasang kembali,” jelasnya.

Menurut KPH Adipati, Prabuwinatan adalah simbol modernisasi pertama di Keraton Solo. Di dalamnya terdapat lima kolam pendingin generator yang juga berfungsi sebagai antisipasi pemadam kebakaran. “Ini bukti Keraton Solo sudah melek teknologi sejak awal abad 20,” katanya.

Wakil Ketua Yayasan Kusumo Buwono, KPH Sahid Yasinco Kusumohadinegoro, menambahkan revitalisasi ini juga membawa misi mempersatukan kerabat keraton. Pihaknya membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat. Penataan kawasany turut melibatkan Yayasan Warna Warni Indonesia dan Yayasan Tandhiyo Buwono Surakarta.

Menanggapi hal itu, Maretha menyatakan Dispar Solo siap mendukung penuh. “Dengan adanya wisata edukasi baru ini kami optimistis bisa menambah daya tarik wisata Solo, sekaligus membuka potensi pendapatan bagi Keraton. Ini sejalan dengan program kami untuk menghidupkan kembali situs-situs sejarah di kota ini,” pungkasnya. Prihatsari

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |