Cara Ilustrator Palembang Suarakan Kegelisahan Sosial

5 hours ago 14

BAGI ilustrator asal Palembang Yudistira Wiranata, gambar bukan sekadar karya visual. Di balik garis tegas dan warna kontras dalam karya-karya yang sering diunggahnya di akun resmi Diskkomik, tersimpan keresahan panjang tentang ketidakadilan sosial, kritik terhadap kebijakan, hingga kegelisahan atas masa depan industri kreatif di daerah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Empat tahun terakhir, ilustrator yang kini memilih jalur freelance itu konsisten mengangkat isu sosial melalui karya visual. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai desainer di sebuah agensi demi fokus berkarya secara mandiri.

“Saya sudah resign dari kerjaan di agensi. Sekarang fokus freelance dari rumah. Karena penginnya mobile, bisa ke mana pun,” kata Yudistira pada Senin, 13 April 2026, saat ditemui Tempo di Pameran Tunggalnya yang berjudul "Eksibisi di Toko Fotokopi".

Keputusan itu membuka ruang bagi Yudis, sapaan akrabnya, untuk lebih leluasa merespons berbagai isu yang ia anggap penting. Baginya, gambar menjadi medium paling jujur untuk menyuarakan keresahan.

Ia mengaku ide karyanya sering berangkat dari kebiasaan sederhananya, yaitu membaca berita dan mengamati situasi sosial di sekitarnya. “Kalau keresahan itu enggak dikeluarin, rasanya kurang lega. Makanya saya berani bersuara lewat karya,” katanya.

Menurut Yudis, diam terhadap ketidakadilan bukanlah pilihan. Ia percaya bahwa kritik sosial harus tetap disuarakan, termasuk melalui medium visual. “Kalau diam, menurut saya itu jahat. Kita jadi ikut menerima aturan yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” ujar dia.

Serangan Buzzer Jadi Tantangan Baru

Namun, keberanian Yudis untuk menyuarakan kritik tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa kesempatan, karya-karyanya justru mendapat serangan komentar massal dari akun anonim atau buzzer.

Serangan itu biasanya muncul dalam bentuk komentar promosi yang membanjiri kolom diskusi, sehingga mengalihkan perhatian dari isi kritik yang disampaikan. “Kadang ada ratusan komentar aneh masuk, misalnya promosi judi online. Itu bikin fokus orang jadi terpecah,” ucapnya.

Meski begitu, ia memilih tetap melanjutkan karyanya. Ia menyadari bahwa risiko tersebut menjadi bagian dari realitas berkarya di era digital. "Sebagai orang yang bergerak di bidang kreatif media sosial dengan kritik sosial juga, itu udah sepaket dengan risiko-risiko yang harus ditanggung," tuturnya.

Pameran tunggal ilustrator Palembang Yudistira Wiranata berjudul "Eksibisi di Toko Fotokopi" pada Senin, 14 April 2026. Beberapa karyanya menyoroti soal isu-isu sosial dan lingkungan. TEMPO/Yuni Rahmawati

Dari Merchandise Band ke Sampul Buku

Perjalanan Yudis di dunia ilustrasi bermula dari lingkaran musik independen di Jakarta dan Palembang. Ia lebih dulu dikenal melalui desain merchandise band, mulai dari kaos hingga artwork rilisan musik.

"Biasanya saya desain buat teman-teman band, seperti sampul kaset album yang mereka punya, atau juga perintilan-perintilan band lainnya," ungkap Yudis.

Belakangan, karya-karyanya mulai merambah dunia literasi. Sejumlah penerbit dan penulis meminta desain sampul buku dengan gaya visual khas diskomik. “Yang sudah dipakai mungkin hampir sepuluh sampul buku. Banyak yang bertema sejarah,” katanya. Salah satu buku yang sampulnya ia desain adalah Mereka Hilang Tak Kembali - Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 yang ditulis oleh Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Wasista.

Minatnya pada sampul buku bukan tanpa alasan. Selain ilustrator, ia juga seorang kolektor buku. Bahkan, inspirasinya untuk membuat desain bertema komic, juga ia dapat dari buku-buku komic bawaannya yang sejak kecil ia pinjam dari kakak laki-lakinya.

"Dulu waktu kecil, suka baca komic turunan dari abang. Atau aku pinjam koleksi-koleksi terbarunya. Akhirnya memang tertarik dengan desain-desain komic itu sendiri. Ditambah juga ada beberapa ilustrator yang aku suka dengan desain yang genre-nya sama," kata dia.

Eksibisi Perdana Jadi Tonggak Penting

Salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kreatifnya adalah penyelenggaraan eksibisi tunggal pertama yang dia laksanakan sejak Sabtu, 11 April 2026 hingga Senin, 19 April 2026. Pameran ini menjadi ruang bagi Yudis menampilkan puluhan karya yang selama ini tersebar di media digital.

“Ini eksibisi tunggal pertama saya, yang saya buka di sebuah Toko Fotokopi Universitas IBA Palembang. Selama ini pernah ikut pameran kolaborasi saja, tapi belum pernah sendiri,” ucapnya.

Eksibisi tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya, tetapi juga upaya menghidupkan kembali kegiatan seni ilustrasi di Palembang. Ia menilai ruang bagi ilustrator di daerah masih terbatas, baik dari sisi fasilitas maupun dukungan ekosistem.

“Saya pengin mengenalkan kegiatan seperti ini di Palembang. Karena, sudah jarang ada eksibisi ilustrasi khususnya di Palembang,” katanya.

Minim Dukungan Industri Kreatif Daerah

Menurut Yudis, persoalan utama industri kreatif di Indonesia bukan pada kemampuan pelaku, melainkan kurangnya dukungan sistem dan apresiasi. Ia menilai potensi kreator di Indonesia sangat besar, namun kesempatan berkembang masih belum merata. “Kalau skill, orang Indonesia jago-jago. Tapi dukungannya kurang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas kreatif antara kota besar dan daerah. “Di Jakarta banyak ruang kreatif, kita bisa lihat Blok M atau tempat lainnya, mereka bisa punya agenda kreatif tersendiri. Kalau di daerah masih jarang dilirik,” kata dia.

Selain itu, proses birokrasi yang rumit kerap menjadi hambatan bagi pelaku seni untuk menggelar acara. “Kalau bikin acara kreatif, sering dipersulit perizinannya,” tuturnya.

Berkarya sebagai Bentuk Perlawanan

Bagi Yudis, menggambar bukan hanya soal estetika atau hiburan. Karya visual baginya adalah ruang untuk menyampaikan kritik sekaligus merekam kegelisahan zaman. Ia percaya bahwa ilustrasi bisa menjadi alat komunikasi yang kuat, bahkan tanpa banyak kata.

“Karya itu penting. Lewat gambar, kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan dan lihat," ucapnya.

Di tengah berbagai keterbatasan, Yudis tetap optimistis bahwa ruang kreatif di daerah akan tumbuh, meski membutuhkan waktu. Ia berharap semakin banyak seniman berani bersuara dan menciptakan ruang kreatif secara mandiri. “Kalau enggak kita yang mulai, siapa lagi?” tutur dia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |