SETELAH sempat dipentaskan pada 2025 lalu, ArtSwara kembali menghadirkan drama musikal MAR. Pertunjukan ini kembali membawa cerita tentang perjuangan, cinta, dan kehilangan di masa revolusi Indonesia, namun dengan pendekatan yang terasa lebih dekat dengan penonton muda hari ini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Malam premiere MAR berlangsung dengan dihadiri oleh sejumlah veteran TNI. Mereka datang sebagai tamu undangan dan ikut menyaksikan bagaimana kisah perjuangan itu dihidupkan kembali lewat musik, dialog, dan tata panggung yang intim.
Menurut produser Maera Panigoro, kembalinya MAR tahun ini tidak lepas dari respons besar penonton pada pertunjukan sebelumnya. “Ini rerun karena animo dari masyarakat tahun lalu memang besar,” ujar Maera pada Kamis, 14 Mei 2026.
Ia juga melihat teater musikal saat ini mulai semakin diminati anak muda. Dalam beberapa tahun terakhir, pertunjukan musikal terus bermunculan dengan tema dan pendekatan yang beragam. “Sekarang musikal memang lagi booming. Hampir setiap tahun selalu ada tiga sampai empat judul musikal baru,” katanya.
Maera berharap semakin banyak anak muda yang datang langsung ke gedung pertunjukan dan menjadikan musikal sebagai bagian dari hiburan sekaligus pengalaman baru. “Mudah-mudahan yang muda-muda ini setiap ada judul musikal baru bisa ditonton semua,” tuturnya.
Latar Bandung 1946 dan Warung Kopi Bernuansa Sunda
MAR mengambil latar Bandung pada 1946–1949, ketika situasi perang masih berlangsung. Cerita berkembang di sebuah warung kopi tradisional bernuansa Sunda dengan lampu-lampu remang yang menjadi tempat berkumpul para pejuang dan perawat.
Di tempat itu pula, Aryati, seorang perawat muda, bertemu dengan Sersan Mar. Hubungan mereka tumbuh di tengah suasana perang dan ketidakpastian keadaan.
Namun di balik cerita cinta yang berkembang, suasana perjuangan tetap terasa kuat sepanjang pertunjukan. Penonton diajak melihat bagaimana masyarakat pada masa itu hidup berdampingan dengan ancaman perang dan kehilangan.
Emosi Pemain yang Ikut Terbawa ke Panggung
Suasana emosional ternyata tidak hanya dirasakan penonton, tetapi juga para pemain selama pertunjukan berlangsung. Dipo, salah satu pemain, mengaku ada beberapa bagian yang terasa sangat berat untuk dimainkan, terutama pada adegan “Gugur Bunga”.
“Scene ‘Gugur Bunga’ jadi salah satu bagian paling berat buat saya. Dari melodinya saja sudah sedih, ditambah suasana di panggung yang sangat emosional,” ujar Dipo.
Respons penonton malam itu juga membuat beberapa momen di atas panggung berkembang secara spontan. Tanta Ginting mengatakan ada dialog yang akhirnya keluar di luar naskah karena melihat para veteran yang hadir menonton langsung pertunjukan tersebut.
“Ada dialog yang sebenarnya enggak ada di naskah. Tapi karena melihat penontonnya para pejuang, jadi rasanya harus keluar begitu saja,” kata Tanta.
Beberapa kejadian tak terduga juga sempat muncul selama pertunjukan berlangsung, mulai dari properti yang bermasalah hingga perubahan adegan secara spontan. Namun para pemain tetap melanjutkan pertunjukan tanpa berhenti. “Kalau di filmbisa retake. Di teater enggak bisa. Semua harus tetap jalan,” ungkapnya.
Cerita yang Ternyata Dekat dengan Kehidupan Pemain
Di balik proses produksinya, MAR juga menghadirkan pengalaman personal bagi sebagian pemain. Putri Indam Kamila, pemeran anggota Laswi atau Laskar Wanita Indonesia, mengaku baru mengetahui tentang Laswi setelah menonton MAR tahun lalu. Ketika akhirnya ikut bermain dalam produksi tahun ini, ia justru menemukan hubungan tak terduga dengan keluarganya sendiri.
Saat sesi foto kostum, Putri sempat mengirim fotonya ke grup keluarga. Tak lama kemudian, sang ayah mengirim foto neneknya di masa muda dengan pakaian yang sangat mirip dengan kostum yang ia kenakan. “Nenekku memang bukan anggota Laswi, tapi beliau sempat belajar menembak waktu itu,” ujar Putri.
Pengalaman itu membuat proses memerankan karakter terasa jauh lebih emosional baginya. “It means so much to me. Jadi setiap memainkan karakter ini rasanya seperti sedang ngobrol sama nenek dan kakekku sendiri," ucapnya.
Lewat cerita-cerita kecil seperti itu, MAR terasa bukan hanya sebagai pertunjukan tentang sejarah, tetapi juga tentang bagaimana memori dan perjuangan masa lalu masih bisa terasa dekat dengan generasi sekarang.
Drama musikal MAR akan dipentaskan pada 15–17 Mei 2026 di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan.


















































