INTERNATIONAL Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen dari prediksi sebelumnya yatu 5,1 persen. IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari yang sebelumnya diprediksi tumbuh 3,4 persen.
Dalam laporannya, IMF mengatakan perekonomian di seluruh dunia terdampak konflik Timur Tengah melalui kenaikan harga komoditas, inflasi, dan sentimen di pasar keuangan. “Negara berkembang dan negara pengimpor komoditas menghadapi risiko lebih berat, dengan depresiasi mata uang yang memperburuk dampak kenaikan harga energi dan pangan,” tulis IMF dalam laporannya, dikutip pada Kamis, 16 April 2026.
Dalam skenario merugikan (adverse scenario), IMF memprediksi harga minyak bisa meningkat 80 persen pada kuartal kedua 2026 atau sekitar US$ 100 per barel, sebelum akhirnya turun ke 20 persen pada 2027 atau sekitar US$ 75 per barel. Adapun harga minyak di Eropa dan Asia diprediksi bisa naik hingga 160 persen. Sementara harga pangan diprediksi melonjak 2,5 persen.
Sedangkan dalam skenario parah (severe scenario), harga minyak dunia diperkirakan melonjak hingga 100 persen atau sekitar US$ 110 per barel pada kuartal kedua, dan akan tetap tinggi di level US$ 125 per barel pada 2027. Dalam kondisi itu, harga minyak di Eropa dan Asia diperkirakan bakal naik 200 persen. Sedangkan harga pangan diperkirakan melonjak 5 persen pada 2026 dan 10 persen pada 2027.
IMF juga memprediksi volume perdagangan dunia bisa menurun dari 5,1 persen dari 2025 menjadi 2,8 persen pada 2026. Namun akan meningkat ke level 3,8 persen pada 2027. “Dinamika ini mencerminkan pemberlakuan tarif secara besar-besaran di awal dan dampaknya diredam oleh penyesuaian dalam hubungan perdagangan dan rantai produksi seiring berjalannya waktu,” tulis IMF.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan Indonesia memiliki bantalan fiskal yang memadai dalam mengantisipasi ketidakpastian global di masa mendatang. "Tentu saja, Indonesia tidak membutuhkan (bantuan), karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp 420 triliun," ujar Purbaya, seperti dikutip dari Antara.
Dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026, Purbaya mengungkapkan bahwa IMF menaruh perhatian pada kemampuan Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian global saat ini.
Pilihan Editor: Pertumbuhan Ekonomi Tak Mendorong Penyerapan Tenaga Kerja
















































