DOMINASI material kaca membuat ruang utama Taichung Aquarium di Kota Taichung, Taiwan, terasa lapang. Dari dalam, langit tampak seperti terbuka, padahal seluruh struktur tertutup rapat. Siang itu, pengunjung tidak terlalu ramai. Suasana relatif tenang dan cukup leluasa untuk mengamati tiap sudut. “Kita ini seakan-akan berada di bawah kubah,” kata pemandu wisata, Chindrawan, kepada Tempo, pada Rabu, 4 Maret 2026.
Alur kunjungan langsung terasa berbeda. Pengunjung diarahkan berjalan dari sisi kanan, berlawanan dengan kebiasaan di banyak museum. “Jalurnya memang dibuat berkebalikan,” ujar laki-laki berkebangsaan Indonesia yang sudah 26 tahun menetap di Taiwan tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dari awal, akuarium ini tidak hanya dibangun sebagai deretan tangki ikan berbahan kaca. Ia disusun sebagai perjalanan. Air menjadi elemen utama yang mengikat seluruh ruang dengan mengalir dari sistem di bawah lantai, lalu muncul dalam berbagai bentuk lanskap. “Air di sini yang buat suasananya hidup,” kata Chindrawan.
Perjalanan dimulai dari ekosistem darat yang basah, lahan peralihan antara sungai dan laut. Di zona wetland, lumpur buatan, air dangkal, dan hewan seperti kepiting, udang, hingga ikan gelodok ditampilkan dalam satu ruang yang menyerupai habitat asli. Pengunjung bisa melihat dari dekat bagaimana organisme hidup di batas dua dunia: darat dan air. “Ini dibuat seperti kondisi aslinya. Ada lumpur, ada air dangkal, dan hewan yang bisa hidup di dua alam,” ujar Chindrawan.
Yang membedakan, pemandangan ini tidak statis. Permukaan air bisa bergerak naik dan turun. Konon, keberadaan air mengikuti pola pasang-surut yang berada di garis pantai dekat Haibin Village, Distrik Qingshui. Pantai ini mengarah langsung ke Selat Taiwan. “Airnya bisa pasang dan surut tergantung situasi di pantai,” kata Chindrawan. Simulasi itu bekerja melalui sistem sensor atau pengaturan waktu.
Zona basah atau "Wetland Zone" di Taichung Aquarium, Taiwan. TEMPO/Arkhelaus Wisnu.
Di beberapa titik, perspektif pengunjung sengaja dibalik. Alih-alih melihat ikan dari depan, pengunjung berdiri di bawah tangki dan menatap ke atas. Ikan-ikan melintas di atas kepala. “Kita bisa lihat ikan dari bawah ke atas. Jadi sudut pandangnya beda,” kata Chindrawan.
Di zona lain, ubur-ubur melayang dalam pencahayaan redup, dipadukan dengan proyeksi digital. Ada pula area penguin, yang bisa diamati dari bawah saat berenang. Salah satu instalasi yang menonjol adalah tangki hiu transparan 360 derajat yang menggabungkan tampilan nyata dan visual digital.
Namun, di balik desain yang kuat, koleksi yang ditampilkan masih terbatas. “Ikannya masih banyak yang umum. Belum terlalu banyak yang spesial,” ujar Chindrawan. Dengan harga tiket sekitar 500 dolar Taiwan atau setara Rp 269 ribu, ia menilai akuarium ini masih relatif terjangkau jika dibandingkan dengan akuarium di Jepang, meski dari sisi koleksi belum sepenuhnya kompetitif.
Proyek ini juga tidak lahir tanpa kritik. Chindrawan bercerita bahwa konsep awalnya sempat dipersoalkan karena dianggap terlalu membatasi ruang gerak satwa. Dimulai pada 2012, Wali Kota Taichung saat itu, Jason Hu, berencana menjadikannya sebagai pusat konservasi. Kebijakan berubah di bawah kepemimpinan Lin Chia-lung. Ia menjadikan proyek ini sebagai proyek akuarium secara penuh. “Sekarang lebih ke edukasi, bukan sekadar hiburan,” katanya.
Desain pun kerap berubah-ubah hingga akhirnya semua selesai dan dibuka untuk publik pada Oktober 2025. Dana untuk akuarium ini mencapai Rp 700 miliar. Perubahan itu mencerminkan bagaimana proyek ini sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah daerah. “Biasanya tergantung wali kota. Setiap pemimpin punya visi sendiri,” ujar Chindrawan.
Di luar soal desain dan koleksi, akuarium ini membawa ambisi yang lebih besar dengan mengubah cara Taiwan mempresentasikan lautnya. Selama ini, daya tarik utama pariwisata Taiwan lebih banyak bertumpu pada pegunungan dan kota. Laut, meski mengelilingi pulau ini, belum menjadi tujuan wisata. Di Taichung Aquarium, pendekatannya dimulai dari hulu. Konsepnya mengikuti aliran air. Dari sungai, termasuk Sungai Tacia, menuju pesisir dan laut dalam. “Seperti batu dari gunung, turun ke sungai, lalu ke laut,” kata Chindrawan.
Narasi ini kemudian diperluas ke fenomena yang lebih besar, seperti arus Kuroshio. Arus ini menjadi jalur migrasi tuna sirip biru di Samudra Pasifik. “Setiap tahun ada lelang ikan pertama. Harganya bisa sangat tinggi,” ujarnya.
Deretan akuarium di dalam Taichung Aquarium, Taiwan, pada Rabu, 4 Maret 2026. TEMPO/Arkhelaus Wisnu.
Secara konsep, tempat ini memang tidak sepenuhnya akuarium. Ia memadukan diorama, simulasi ekosistem, dan teknologi visual untuk memberi pengalaman pengunjung. Upaya untuk menggabungkan edukasi, rekreasi, dan konservasi terlihat jelas, meski masih dalam tahap berkembang.
Tantangan juga tidak kecil. Lokasinya yang dekat laut membuat perawatan lebih kompleks. “Kaca cepat buram kena uap garam. Perawatannya tidak mudah,” ujar Chindrawan. Sebagai destinasi baru, Taichung Aquarium belum sepenuhnya matang. Koleksi masih bisa diperluas, dan konsepnya masih terus disempurnakan.
Di Jakarta, warga mungkin punya sejumlah akuarium besar seperti Jakarta Aquarium Safari, Sea World, atau BXSea, sebagai tujuan wisata akhir pekan. Di Taiwan, pengalaman hampir serupa bisa Anda temui di Taichung Aquarium.


















































