PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu mengklaim bahwa Cina telah setuju untuk tidak memasok senjata ke Iran. Seperti dilansir Komo News, Trump mengatakan telah menerima jaminan langsung dari Presiden Cina Xi Jinping di tengah meningkatnya kekhawatiran di Washington atas peran Beijing dalam konflik Asia Barat (Timur Tengah) yang dimulai AS.
"Mereka telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Presiden Xi akan memberi saya pelukan hangat ketika saya sampai di sana dalam beberapa pekan," tulis Trump di Truth Social, merujuk pada pertemuan puncak yang direncanakannya di Beijing pada Mei mendatang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Trump juga mengklaim bahwa Xi sangat senang karena AS "secara permanen membuka" Selat Hormuz, jalur minyak penting di Teluk, meski Washington justru memblokir jalur air tersebut.
“Saya melakukan ini untuk mereka juga – dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis Trump di Truth Social.
Pernyataan Trump digaungkan kembali oleh juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari yang sama. "Presiden Xi memastikan kepada Presiden Trump bahwa mereka tak memasok senjata kepada Iran selama konflik berlangsung, dan jaminan tersebut disampaikan kepada presiden," kata Leavitt dalam sebuah konferensi pers seperti dilansir Anadolu.
Pembelian Minyak
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang mendampingi Leavitt dalam jumpa pers tersebut, menyoroti peran Cina dalam membeli minyak Iran.
"Cina membeli 90 persen lebih minyak Iran, yang kira-kira jumlahnya delapan persen dari kebutuhan energi Cina," kata Bessent.
Ia menambahkan bahwa blokade di Selat Hormuz dapat menghentikan sementara Cina dari melakukan pembelian minyak mentah dari Iran.
Menkeu AS berkata dua bank Cina telah diberi peringatan bahwa mereka dapat disanksi apabila menerima uang dari Iran.
"Dua bank Cina telah menerima surat dari Kementerian Keuangan AS. Saya tak akan sebutkan nama banknya, tapi kami katakan pada mereka kalau terbukti ada uang Iran yang mengalir melalui rekening mereka, kami akan berikan mereka sanksi sekunder," kata Bessent.
Komo News telah meminta komentar dari kedutaan besar Cina di AS, tetapi belum menerima tanggapan. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Beijing mengatakan pada Selasa bahwa laporan tentang dukungan militer Cina untuk Iran adalah "murni rekayasa."
"Cina selalu bertindak dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, dan menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan Cina tentang kontrol ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku," kata juru bicara Guo Jiakun kepada wartawan.
Ia juga mengkritik keras blokade Selat Hormuz oleh AS, yang diumumkan oleh Trump pada Ahad, sebagai "berbahaya dan tidak bertanggung jawab."
"Dengan perjanjian gencatan senjata sementara yang masih berlaku, Amerika Serikat meningkatkan pengerahan militer dan melakukan blokade yang ditargetkan," kata Jiakun. "Ini hanya akan memperburuk konfrontasi, meningkatkan ketegangan, merusak gencatan senjata yang sudah rapuh, dan semakin membahayakan jalur aman melalui Selat Hormuz."
Dugaan Transaksi Senjata
New York Times dan CNN baru-baru ini secara terpisah membuat laporan yang belum terverifikasi bahwa Cina telah menyediakan senjata militer kepada Iran untuk membantu upaya perangnya melawan AS-Israel.
Rudal anti-pesawat yang ditembakkan dari bahu dan mampu menembak jatuh pesawat terbang rendah dilaporkan telah dikirim, menurut pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Pejabat pemerintah Cina membantah keras klaim tersebut, menggambarkannya sebagai "sensasionalis" dan "tidak berdasar."
Seperti dilaporkan SBS News, Cina adalah mitra dagang terbesar Iran dan keduanya mempertahankan hubungan strategis yang erat.
Pada 2021, mereka menandatangani perjanjian kerja sama 25 tahun, yang membawa Iran ke dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) andalan Cina.
Cina juga terus membeli sekitar 80 persen ekspor minyak Iran selama sanksi Barat diberlakukan, menurut data dari perusahaan analisis perkapalan Kpler —sekitar 1,38 juta barel per hari.
Namun, kebijakan luar negeri Cina dibangun di sekitar "lima prinsip hidup berdampingan secara damai," yang secara teoritis membuat negara tersebut sangat menghindari risiko campur tangan internasional. Sejauh ini, perannya dalam konflik di Asia Barat cukup tenang, meskipun hal itu dapat berubah tergantung pada berapa lama konflik tersebut berlanjut.
















































