Trump Hapus Gambar Diri Mirip Yesus setelah Tuai Protes

7 hours ago 16

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menghadapi kecaman yang semakin meningkat setelah mengunggah gambar yang dihasilkan AI, menampilkan dirinya sebagai sosok penyembuh mirip Yesus. Ia juga dikecam karena melancarkan serangkaian serangan di media sosial terhadap Paus Leo XIV, yang menuai kritik dari seluruh spektrum politik Kristen.

Gambar tersebut dibagikan di platform Truth Social milik Trump pada Ahad dan dihapus pada Senin. Gambar buatan kecerdasan buatan itu menunjukkan dirinya mengenakan jubah putih meletakkan tangan di kepala seorang pria dalam adegan yang menyerupai penyembuhan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Gambar itu diunggah setelah pesan terpisah di mana Trump mengkritik Paus Leo XIV, menyebutnya "lemah dalam menangani kejahatan" dan "buruk dalam kebijakan luar negeri".

Berdalih Mirip Dokter

Kemudian, Trump mengklaim kepada wartawan bahwa, meskipun dia yang mengunggah gambar tersebut, dia mengira gambar itu menggambarkan dirinya "sebagai seorang dokter".

"Dan itu berkaitan dengan Palang Merah sebagai pekerja Palang Merah, yang kami dukung. Dan hanya berita palsu yang bisa mengarang hal itu," dalihnya seperti dilansir Al Jazeera.

Dia juga mengatakan bahwa dia tidak "menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat".

Paus Leo XIV pada Senin dalam perjalanan ke Aljazair, tempat Paus kelahiran AS pertama ini memulai kunjungan 11 hari ke empat negara Afrika, menegaskan,"Saya tidak ingin berdebat dengannya."

"Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mempromosikan dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah," kata Paus Leo XIV.

"Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik."

‘Paus Leo Bukanlah Saingannya’

Ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan telah meningkat selama berbulan-bulan, terutama terkait kebijakan imigrasi garis keras pemerintahan AS, tindakan militernya, dan perang AS-Israel melawan Iran.

Komentar Trump muncul setelah Leo menyatakan pada akhir pekan bahwa "khayalan kemahakuasaan" sedang memicu perang AS-Israel di Iran.

Meskipun bukan hal yang aneh bagi paus dan presiden untuk memiliki pandangan yang berbeda, sangat jarang bagi paus untuk secara langsung mengkritik seorang pemimpin AS. Dan tanggapan pedas Trump sama langkanya, jika bukan lebih langka lagi.

Para pemimpin Katolik senior di AS juga mengecam pernyataan Trump tentang Paus.

“Saya kecewa bahwa Presiden memilih untuk menulis kata-kata yang meremehkan tentang Bapa Suci. Paus Leo bukanlah saingannya; Paus juga bukan seorang politikus,” kata Uskup Agung Paul S Coakley, presiden Konferensi Uskup Katolik AS, dalam sebuah pernyataan.

“Dia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan untuk kepedulian terhadap jiwa-jiwa,” tambah Coakley.

Di Las Vegas, Uskup Agung George Leo Thomas mengatakan dia “bersyukur kepada Tuhan karena telah mengutus Paus Leo XIV kepada kita, yang bersedia menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan tepat ketika kita sangat membutuhkannya”.

“Paus Leo menyerukan dialog daripada cercaan, doa daripada politik, dan diplomasi di atas kehancuran,” Thomas menegaskan.

Secara internasional, pernyataan Trump juga menuai kecaman. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan serangan presiden AS terhadap Paus Leo XIV “tidak dapat diterima”.

“Saya menganggap kata-kata Presiden Trump terhadap Bapa Suci tidak dapat diterima. Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah benar dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk setiap bentuk perang,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Kritik dari Kubu Konservatif dan Sayap Kanan

Reaksi keras tidak hanya terbatas pada para pemimpin gereja Katolik. Beberapa tokoh konservatif juga mengkritik unggahan Trump, khususnya gambar yang dihasilkan AI.

Brilyn Hollyhand, mantan ketua bersama Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Republik, menulis di X:

“Ini adalah penghujatan yang sangat besar. Iman bukanlah alat peraga. Anda tidak perlu menggambarkan diri Anda sebagai penyelamat ketika rekam jejak Anda seharusnya berbicara sendiri.”

Riley Gaines, pembawa acara FOX News, mantan perenang perguruan tinggi dan kritikus vokal atlet transgender dalam olahraga wanita yang pernah tampil bersama Trump di berbagai rapat umum, juga mempertanyakan unggahan tersebut.

“Apakah dia benar-benar berpikir seperti ini?” tulisnya. “Bagaimanapun, dua hal yang benar: 1) sedikit kerendahan hati akan sangat bermanfaat baginya, 2) Tuhan tidak boleh diperolok-olok.”

Megan Basham, seorang kolumnis untuk media konservatif dan pro-Israel Daily Wire, menggambarkan unggahan tersebut sebagai “penghujatan yang SANGAT KETERLALUAN”.

“Saya tidak tahu apakah Presiden mengira dia sedang bercanda atau apakah dia berada di bawah pengaruh suatu zat atau penjelasan apa pun yang mungkin dia miliki untuk ini,” tulisnya.

Dia menuntut Trump “segera menghapus ini dan meminta maaf kepada rakyat Amerika dan kemudian kepada Tuhan”.

Isabel Brown, juga dari Daily Wire, mengatakan gambar itu "menjijikkan dan tidak dapat diterima." Ia menambahkan bahwa "tidak ada yang lebih penting daripada Yesus" dan berpendapat bahwa itu mencerminkan kesalahpahaman tentang apa yang dia gambarkan sebagai penerimaan kembali iman Kristen di Amerika Serikat.

Kecaman juga meluas ke Partai Demokrat. Senator Bernie Sanders mengecam komentar Trump sebagai "egomaniak".

“Trump sekarang menyerang Paus karena berbicara menentang perang sambil memposting gambar dirinya sebagai sosok mesianik,” tulisnya di X.

“Ini bukan hanya menyinggung. Ini adalah perilaku yang gila dan egois.”

Dukungan Trump di Kalangan Pemilih Kristen

Trump, yang tidak rutin pergi ke gereja, mendapatkan dukungan kuat dari pemilih Kristen dalam pemilihan 2024. Ini termasuk mayoritas Katolik, yang mendukungnya 56 persen berbanding 42 persen, menurut analisis oleh ilmuwan politik Ryan Burge dari Universitas Washington.

Setelah Trump nyaris selamat dari upaya pembunuhan pada Juli 2024, beberapa pendukung evangelis menggambarkan momen itu sebagai bukti perlindungan ilahi.

Tahun lalu setelah kematian Paus Fransiskus, Trump juga membagikan gambar yang menggambarkan dirinya sebagai Paus, yang memicu kemarahan di antara banyak umat Katolik.

Uskup Robert Barron, yang bertugas di komisi kebebasan beragama yang dibentuk oleh Trump, mengatakan di X bahwa presiden berutang permintaan maaf kepada Leo atas pernyataan-pernyataannya yang "tidak pantas" di media sosial.

Namun, dalam unggahan yang sama, ia juga memuji Trump atas upayanya menjangkau umat Katolik.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |