وَلَوْلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِٱلرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ
walau lā ay yakụnan-nāsu ummataw wāḥidatal laja’alnā limay yakfuru bir-raḥmāni libuyụtihim suqufam min fiḍḍatiw wa ma’ārija ‘alaihā yaẓ-harụn
“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (QS Az-Zukhruf: 33)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat-saat ketika manusia begitu mudah silau pada cahaya dunia. Kilau logam, tinggi bangunan, gemerlap kekuasaan, dan kemewahan yang dipamerkan dari satu jendela ke jendela lain sering kali membuat hati lupa bahwa tidak semua yang bercahaya membawa manusia menuju cahaya yang sesungguhnya.
Ayat ini seperti membuka tirai tipis dari sebuah kenyataan yang diam-diam hidup di dalam batin manusia: betapa rapuhnya hati ketika berhadapan dengan kemewahan.
Allah menggambarkan, seandainya bukan karena kekhawatiran seluruh manusia akan tergelincir menjadi satu umat dalam kekafiran, maka rumah-rumah orang yang mengingkari-Nya bisa saja dibuat beratapkan perak. Tangga-tangga mereka pun menjulang dari logam mulia. Sebuah gambaran yang bukan sekadar tentang kekayaan, melainkan tentang betapa mudahnya dunia diberikan kepada siapa saja.
Di situlah letak getaran ayat ini.
Kemewahan ternyata bukan tanda cinta Allah. Dunia bukan ukuran kemuliaan. Sebab sesuatu yang begitu mudah diberikan bahkan kepada mereka yang berpaling dari-Nya, tidak mungkin menjadi tanda tertinggi kedekatan dengan Tuhan.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mengikuti apa yang tampak gemerlap di depan mata. Bila seluruh kemewahan dunia dikumpulkan pada orang-orang kafir, banyak manusia akan mengira bahwa jalan merekalah jalan kemenangan. Bahwa kebenaran diukur dari istana, emas, dan kekuatan materi.
Padahal dunia sering kali hanya panggung sementara yang penuh lampu-lampu tipuan.
Ada orang yang hidup di rumah sempit tetapi hatinya lapang seperti langit selepas hujan. Ada pula yang berjalan di lantai marmer, namun jiwanya sunyi dan gelisah seperti lorong kosong tanpa ujung.
Ayat ini seakan mengajarkan bahwa Allah terkadang justru melindungi manusia dari fitnah kemewahan yang berlebihan. Sebab tidak semua hati cukup kuat untuk melihat kekayaan tanpa ikut menyembahnya.
Di zaman sekarang, ketika manusia berlomba membangun citra, memamerkan kehidupan, dan mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di layar-layar dunia, ayat ini terasa semakin dekat. Kita hidup di masa ketika angka, merek, dan kemewahan sering lebih dipercaya daripada kebijaksanaan dan ketulusan.
Namun Alquran mengingatkan dengan lembut: dunia terlalu kecil untuk dijadikan ukuran akhir tentang siapa yang dicintai Allah.
Perak bisa menghiasi atap rumah. Tangga bisa dibuat menjulang tinggi. Tetapi semua itu tetap tidak mampu membeli ketenangan jiwa, tidak mampu menambal kehampaan hati, dan tidak dapat menggantikan satu cahaya iman yang hidup di dalam dada manusia.

5 days ago
35

















































