Buntut Perang Iran, Pakar Arab: UEA tak Lagi Butuh AS, Pangkalan Cuma Beban, Bukan Aset Strategis

6 hours ago 16

Asap hitam tebal mengepul ke udara di atas pelabuhan Jebel Ali setelah terkena puing-puing dari rudal Iran yang dicegat, di Dubai, Uni Emirat Arab, Ahad (1/3/2026). Iran melancarkan serangan udara balasan di wilayah tersebut menyusul operasi militer gabungan Israel-AS sebelumnya yang menargetkan beberapa lokasi di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Uni Emirat Arab (UEA) dinilai sudah saatnya mempertimbangkan untuk menutup pangkalan-pangkalan AS. Menurut seorang pengamat senior UEA yang punya hubungan dengan kerajaan pangkalan-pangkalan tersebut merupakan beban dan bukan aset strategis.

Abdulkhaleq Abdulla, seorang akademisi terkemuka, menyampaikan komentar tersebut di X, mengulangi pernyataan yang telah ia berikan kepada Reuters.

“UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk membelanya, karena telah terbukti selama agresi Iran bahwa UEA mampu membela diri dengan gemilang,” tulis Abdulla, dilansir laman MEE, Senin (20/4/2026) 

“Yang dibutuhkan UEA adalah hanya memperoleh senjata terbaik dan terbaru yang dimiliki Amerika. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk memikirkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika, karena pangkalan-pangkalan tersebut merupakan beban dan bukan aset strategis.”

AS memiliki setidaknya 19 lokasi—delapan di antaranya dianggap permanen—di seluruh Timur Tengah. Demikian menurut laporan Council on Foreign Relations. Sebelum perang, terdapat sekitar 40 ribu tentara Amerika di pangkalan tersebut. 

Adapun UEA adalah rumah bagi 3.500 tentara AS, serta pangkalan udara al-Dhafra, sebuah lokasi yang digunakan bersama oleh Amerika, Prancis, dan UEA.

Nadim Koteich, seorang komentator terkemuka yang berbasis di UEA dan mantan eksekutif media, melalui X menyatakan ketidaksetujuannya terhadap posisi Abdulla.

"Washington telah terbukti sebagai sekutu yang dapat diandalkan di setiap bidang penting, dan tidak ada yang lebih terlihat daripada selama perang ini," kata Koteich.

"Namun, mereduksi hubungan hanya pada dimensi militer dan keamanannya salah menafsirkan apa yang sebenarnya telah menjadi aliansi tersebut, dan mengarah pada kesimpulan yang terburu-buru."

Ia mengatakan bahwa Washington telah memilih UEA sebagai mitra pilihannya di kawasan tersebut dalam hal teknologi dan industri.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |