Detik-detik Sirene Mengaung! Siswa SMPN 2 Giritontro Histeris Saat Simulasi Bencana, Ini yang Terjadi di Lapangan

8 hours ago 12
BencanaSimulasi bencana di SMPN 2 Giritontro Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Suasana tenang di SMP Negeri 2 Giritontro mendadak berubah mencekam saat sirene peringatan berbunyi nyaring. Ratusan siswa langsung panik, sebagian bahkan tampak histeris. Momen ini bukan kejadian nyata, melainkan simulasi dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 yang digelar Sabtu (23/4/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar formalitas. Sejak awal, para siswa digembleng dengan materi penting tentang cara menghadapi bencana, mulai dari gempa bumi hingga teknik evakuasi yang benar. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi langsung praktik menghadapi situasi darurat yang dibuat semirip mungkin dengan kondisi nyata.

Pembimbing PMR, Basuki Okto, menegaskan bahwa kesiapan tidak datang secara instan. Sebelum simulasi berlangsung, anggota Palang Merah Remaja sudah lebih dulu mendapatkan pembekalan khusus.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi bapak ibu guru dan karyawan. Anak-anak PMR kami bekali terlebih dahulu agar mampu menjadi garda terdepan saat simulasi berlangsung,” tegasnya.

Ketika sirene berbunyi, skenario darurat langsung dijalankan. Kepanikan yang muncul justru menjadi bagian penting dari pembelajaran. Dalam kondisi tersebut, anggota PMR bergerak cepat mengevakuasi siswa lain melalui jalur aman yang telah ditentukan. Mereka memastikan semua peserta keluar dari area rawan menuju titik kumpul dengan tertib.

Di tengah situasi yang terlihat kacau, justru terlihat bagaimana sistem yang sudah dilatih berjalan. Siswa yang awalnya panik perlahan bisa dikendalikan, diarahkan, dan diselamatkan sesuai prosedur.

Kepala SMPN 2 Giritontro, Retno Wulandari, menekankan bahwa kegiatan ini bukan tanpa alasan. Lokasi sekolah yang berada dekat kawasan pantai selatan membuat potensi bencana, khususnya gempa bumi, tidak bisa diabaikan.

“Ini adalah edukasi yang sangat penting, apalagi wilayah kami dekat dengan pantai selatan yang memiliki potensi gempa. Kami berharap kegiatan ini menjadi bekal bagi siswa dalam menjaga keselamatan diri dan lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Simulasi ini menjadi gambaran nyata bahwa kesiapsiagaan bukan hanya teori di atas kertas. Saat kondisi darurat benar-benar terjadi, kecepatan bertindak dan pemahaman prosedur bisa menjadi penentu antara selamat atau tidak.

Dengan latihan seperti ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga dilatih untuk membantu orang lain dalam situasi krisis. Lingkungan sekolah pun diharapkan menjadi lebih tanggap, terorganisir, dan tidak mudah panik saat menghadapi ancaman bencana. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |