Pengakuan Dosa Bos OpenAI: ChatGPT Sempat Deteksi Penembak di British Columbia, Tapi Malah Didiamkan

6 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –– CEO OpenAI, Sam Altman, menyampaikan permintaan maaf atas kegagalan perusahaannya melaporkan aktivitas daring mencurigakan seorang remaja yang kemudian melakukan salah satu penembakan massal terburuk di Kanada.

Pelaku, Jesse Van Rootselaar (18), melakukan aksi penembakan di Tumbler Ridge, British Columbia, pada 10 Februari, yang menewaskan delapan orang. Korban termasuk anggota keluarganya serta sejumlah pelajar di sekolah setempat. Pelaku kemudian meninggal dunia akibat luka tembak yang dilakukan sendiri.

Peristiwa penembakan terjadi pada 10 Februari 2026 di Tumbler Ridge, British Columbia, Kanada. Pelaku, Jesse Van Rootselaar (18), memulai aksinya dengan melakukan serangan terhadap orang-orang di lingkungan terdekatnya.

Dalam insiden tersebut, korban pertama berasal dari lingkar keluarga pelaku, sebelum aksi berlanjut ke lokasi lain di komunitas setempat. Pelaku kemudian bergerak ke sekolah menengah di wilayah tersebut, di mana sejumlah korban tambahan jatuh. Secara keseluruhan, delapan orang dilaporkan tewas dalam kejadian ini, termasuk anggota keluarga pelaku dan beberapa pelajar. Aparat keamanan kemudian merespons insiden tersebut dan mengamankan lokasi.

Peristiwa berakhir ketika pelaku ditemukan meninggal dunia akibat luka tembak yang dilakukan sendiri. Hingga kini, otoritas masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif dan faktor yang melatarbelakangi aksi tersebut. OpenAI mengungkapkan bahwa akun ChatGPT milik pelaku sempat ditandai secara internal pada Juni tahun sebelumnya karena dugaan penyalahgunaan yang berkaitan dengan aktivitas kekerasan. Akun tersebut kemudian diblokir.

Namun, perusahaan tidak melaporkan temuan tersebut kepada aparat penegak hukum. OpenAI saat itu menilai aktivitas pengguna belum memenuhi ambang batas sebagai ancaman yang kredibel atau segera terhadap pihak lain. Dalam surat yang dipublikasikan oleh media lokal dan pemerintah provinsi British Columbia, Altman mengakui bahwa keputusan tersebut merupakan kekeliruan.

“Saya sangat menyesal kami tidak memberi tahu aparat penegak hukum terkait akun yang diblokir pada Juni. Kata-kata mungkin tidak cukup, tetapi permintaan maaf ini perlu disampaikan sebagai bentuk pengakuan atas kerugian yang dialami komunitas,” tulis Altman, sebagaimana diberitakan Al Jazeera dan sejumlah media asing.

Ia menambahkan bahwa OpenAI berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, termasuk memperkuat mekanisme deteksi dan pelaporan aktivitas berisiko tinggi.

Pernyataan tersebut muncul setelah Perdana Menteri British Columbia, David Eby, sebelumnya menyatakan bahwa Altman telah sepakat untuk menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas Tumbler Ridge. Dalam suratnya, Altman juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan masyarakat setempat, serta mengakui dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan oleh tragedi tersebut.

Kasus ini memicu perdebatan luas mengenai tanggung jawab perusahaan teknologi dalam mendeteksi dan melaporkan potensi ancaman kekerasan yang muncul melalui platform digital berbasis kecerdasan buatan.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |