Xi Jinping Genjot Manufaktur China, Ini yang Dicemaskan Eropa

3 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden China Xi Jinping mendorong negaranya memperbesar sekaligus memperkuat sektor manufaktur maju. Beijing juga ingin meningkatkan kemandirian dan kendali atas rantai industri strategis di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat.

Dorongan tersebut muncul ketika kapasitas manufaktur China justru menjadi sumber kekhawatiran baru di Eropa. Peningkatan ekspor kendaraan listrik, teknologi energi bersih, dan berbagai produk industri China memunculkan kekhawatiran mengenai gelombang tekanan kompetitif baru yang mulai disebut sebagai “China Shock 2.0”.

Xi mengatakan China harus terus membuat manufaktur maju menjadi lebih besar dan lebih kuat. Pada saat yang sama, Beijing perlu meningkatkan kemandirian serta kemampuan mengendalikan rantai industri.

Pernyataan itu disampaikan Xi dalam Konferensi Nasional Manufaktur Maju di Beijing pekan ini, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Xinhua, Kamis.

Xi juga menyerukan percepatan pembangunan sistem industri modern dengan sektor manufaktur maju sebagai tulang punggungnya. Menurut dia, China telah mencatat kemajuan besar menuju posisi sebagai kekuatan manufaktur dunia.

Sektor manufaktur maju China, kata Xi, terus meningkatkan kemampuan inovasi, daya saing, dan kekuatan industrinya. Beijing kini berupaya memastikan kemajuan tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi dan komponen dari luar negeri.

Strategi itu menjadi bagian penting dari upaya China memperkuat kemandirian teknologi di tengah meningkatnya pembatasan perdagangan dan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Penguasaan rantai pasok dinilai semakin menentukan kemampuan sebuah negara mempertahankan produksi ketika terjadi gangguan geopolitik ataupun pembatasan ekspor teknologi.

Namun, ekspansi kapasitas manufaktur China membawa konsekuensi lain bagi negara-negara mitra dagangnya. Eropa khususnya mulai mencemaskan membanjirnya produk manufaktur China dengan harga yang sangat kompetitif ke pasar internasional.

Kendaraan listrik menjadi salah satu sektor yang paling mendapat perhatian. Selain EV, kekhawatiran juga mencakup berbagai produk teknologi hijau yang kapasitas produksinya tumbuh cepat di China.

Situasi tersebut melahirkan perdebatan mengenai kemungkinan datangnya “China Shock 2.0”. Istilah itu merujuk pada kekhawatiran bahwa peningkatan ekspor manufaktur China kembali memberikan tekanan besar kepada produsen di negara-negara lain.

Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena arah kebijakan ekonomi Beijing dalam beberapa tahun terakhir mengalami pergeseran. Pemerintah China mengalihkan kredit dan sumber daya dari sektor properti menuju manufaktur maju dan industri teknologi tinggi.

Langkah itu ditempuh untuk mencari mesin pertumbuhan baru setelah sektor properti yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pendorong utama ekonomi China menghadapi tekanan. Beijing kemudian meningkatkan dukungan terhadap industri strategis yang dinilai dapat memperkuat posisi China dalam kompetisi ekonomi global.

Manufaktur berteknologi tinggi pun berkembang pesat. Tetapi ledakan investasi dan produksi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan rumah tangga dan konsumsi domestik yang lebih kuat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan penting dalam perekonomian China. Jika permintaan domestik tidak mampu menyerap pertumbuhan produksi, perusahaan China semakin bergantung pada pasar luar negeri untuk menjual barang yang mereka hasilkan.

Di titik inilah strategi manufaktur Beijing bersinggungan langsung dengan kekhawatiran Eropa. Pertumbuhan kapasitas produksi China dapat meningkatkan tekanan ekspor ke pasar global ketika konsumsi di dalam negeri belum tumbuh secepat kapasitas industrinya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |